PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (IDX:BBRI)
3,070.00
0.00 (0.00%)
Apr 29, 2026, 4:10 PM WIB
← View all transcripts
Earnings Call: Q2 2022
Jul 27, 2022
Terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera. Yang kami hormati, Bapak Direktur Utama Bank BRI, Bapak Wakil Direktur Utama, Bapak Ibu Direksi dan SEVP, rekan-rekan analis, para investor BRI, para senior leaders BRI serta Bapak Ibu undangan yang telah bergabung dalam acara analyst meeting dan pemaparan kinerja keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk semester satu tahun 2022. Perkenalkan saya Rustarti Suri Pertiwi, Head of Investor Relations Bank BRI. Pada kesempatan ini, saya akan memandu kegiatan pemaparan kinerja keuangan semester satu tahun 2022 ini. Kami sampaikan bahwa kegiatan pemaparan kinerja keuangan dilakukan melalui Zoom Meeting dan akan dibawakan dalam bahasa Indonesia. Namun demikian, kami telah menyiapkan interpretation feature untuk para peserta. For the meeting participants in this Zoom Meeting, the interpretation feature is available. You can push the globe icon on the bottom of the screen to access this feature. Thank you.
Kegiatan ini akan diawali dengan pemaparan kinerja dari Board of Directors BRI yang kemudian akan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Apabila pada sesi tanya jawab ada yang akan menyampaikan pertanyaan, mohon untuk dapat menggunakan feature raise hand, yang selanjutnya kami akan memberikan kesempatan untuk bertanya secara langsung kepada Direksi BRI. Sebagai informasi, materi presentasi telah dapat diunduh di website www.ir.bri.co.id. Selama kegiatan analyst meeting ini, kami mohon agar Bapak Ibu peserta meeting dapat selalu dalam mode suara mute dengan mode video on sehingga dapat mendukung kelancaran dan ketertiban acara ini. Untuk memulai pemaparan kinerja, kami persilakan kepada Direktur Utama Bank BRI, Bapak Sunarso. Waktu dan tempat kami persilakan.
Terima kasih Bu Twi. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Om Swastiastu, Namo Buddhaya, salam kebajikan. Kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan analis telah hadir dalam acara analyst meeting dan pemaparan kinerja BRI untuk triwulan dua 2022. Untuk mengawali, saya akan memaparkan chronicle atau rangkaian peristiwa selama pandemi COVID-19 dan dampaknya pada kondisi perekonomian serta respon kebijakan pemerintah dan regulator policy responses serta strategic responses BRI untuk menjaga resiliensi. Pertama, ingin saya sampaikan bahwa pandemi COVID-19 ini dimulai sebagai krisis kesehatan, kemudian meluas menjadi krisis multidimensi yang memporak-porandakan perekonomian, mengakibatkan resesi dan kontraksi ekonomi. Seperti yang kita lihat pada slide berikut, bahwa di masa awal pandemi sebagai akibat dari usaha pengendalian penyebaran COVID-19 yang di antaranya berupa pembatasan aktivitas masyarakat, kemudian kondisi perekonomian Indonesia mengalami pelambatan yang ditunjukkan oleh GDP growth kita yang pada garis biru itu bisa dilihat.
Di tahun 2020 terkontraksi cukup dalam dengan level terendah mencapai minus 5.32% pada triwulan dua 2020. Kemudian juga ditunjukkan dengan nilai tukar rupiah yang sempat melemah pada awal pandemi hingga pernah mencapai level IDR 16,310 per USD pada Maret 2020. Demikian juga pada garis hijau kita bisa lihat kredit industri mencatat pertumbuhan negatif dengan level terendah -3.8% year-over-year pada Maret 2021. Hal ini juga diikuti oleh pemburukan kualitas kredit yang memaksa perbankan termasuk juga di dalamnya BRI melakukan restrukturisasi kredit secara masif. Untuk merespon kondisi tersebut, pemerintah bersama regulator mengambil berbagai langkah untuk menjaga kondisi ekonomi dan kemudian mengakselerasi pemulihan ekonomi antara lain melalui beberapa kebijakan. Pertama, pemerintah memperlebar budget deficit untuk membiayai program pemulihan ekonomi nasional yang difokuskan pada dukungan sosial, dukungan kesehatan, dan dukungan pada dunia usaha.
Kemudian pemerintah bersama BI melakukan budget burden sharing, yaitu partisipasi BI pada pembelian surat berharga SBN di pasar primer untuk menjaga fiscal space. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, BI sebagai Otoritas Moneter menurunkan BI 7-Day Reverse Repo dari 5% hingga 3.5% dan menurunkan giro wajib minimum dari 5% menjadi 3.5% untuk memberikan injeksi likuiditas kepada pasar. OJK juga turut memberikan dukungan dalam bentuk peraturan yang ditujukan untuk melakukan relaksasi, terutama relaksasi ketentuan restrukturisasi, relaksasi ketentuan permodalan atau juga CAR, serta relaksasi pengelolaan likuiditas LCR dan Net Stable Funding Ratio. Kebijakan pemerintah yang proaktif dan komprehensif untuk mengendalikan pandemi di antaranya melalui PPKM yang levelnya disesuaikan dengan perkembangan kasus setiap wilayah serta akselerasi program vaksinasi telah menunjukkan hasil dengan makin terkendalinya penyebaran kasus COVID-19 itu yang ditunjukkan dengan warna abu-abu.
Sebagai hasilnya GDP growth kita dapat kembali pulih dan tumbuh positif dengan level inflasi dan nilai tukar yang tetap terjaga. GDP tumbuh stabil di quarter 2 2022 sebesar 5.01% year-on-year dengan kontribusi utama dari konsumsi rumah tangga dan investasi sebagai dua komponen terbesar dalam perekonomian Indonesia. Indikator makroekonomi seperti Consumer Confidence Index, CCI di level 128.2 dan Purchasing Manager Index PMI manufacture di level 50.2 dan meskipun berfluktuasi namun masih terus bertahan di zona ekspansi. Demikian pula indeks penjualan ritel yang masih pada tren positif pada level 2.291.
Kita juga punya indikator-indikator yang lain antara lain bahwa BRI sudah beberapa kali menerbitkan namanya BRI Micro and SME Business Index dan hal ini juga menunjukkan kelanjutan recovery aktivitas bisnis UMKM serta optimisme atas kinerja pada kuartal selanjutnya sebagaimana ditunjukkan oleh Micro and SME Business Activity Index dan juga Business Activity Expectation Index yang masih berada di zona ekspansif dan optimisme pelaku usaha UMKM menjadi sentimen positif bagi ekonomi Indonesia sekaligus bisnis BRI dimana UMKM merupakan kontributor terbesar GDP Indonesia. Karena kontribusi UMKM terhadap GDP itu di atas 60%, ya. Namun demikian di saat pemulihan masih berlangsung dan belum sepenuhnya keluar dari situasi pandemi kita dihadapkan lagi pada tantangan-tantangan baru antara lain yang merupakan efek samping dari pandemi itu sendiri dimana ketimpangan penanganan pandemi antar negara, antar region telah menyebabkan disrupsi pada rantai pasokan global dan mengakibatkan kenaikan harga-harga komoditas.
Hal ini diperparah dengan terjadinya konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina ditambah lagi dengan munculnya kebijakan proteksionisme yang kemudian mempertajam krisis pangan dan energi secara global. Sebagai akibatnya tekanan inflasi global terus meningkat seiring dengan tingginya harga komoditas. Berbagai negara terutama Amerika Serikat merespons peningkatan inflasi tersebut dengan pengetatan kebijakan moneter termasuk dengan menaikkan Fed rate secara lebih agresif sehingga dapat mengganggu pemulihan ekonomi dunia dan meningkatkan risiko stagflasi. Meskipun saat ini berada di bawah tekanan namun nilai tukar Rupiah secara volatility masih cenderung terjaga. Depresiasi yang dialami lebih terbatas apabila dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan ASEAN sekalipun ataupun mata uang negara berkembang lainnya.
Kenaikan harga komoditas telah memungkinkan realisasi panjang surplus neraca perdagangan dan berkelanjutan surplus transaksi berjalan sejalan dengan memperkuat posisi cadangan devisa menjadi $136.4 billion dan itu setara dengan untuk memenuhi kebutuhan impor selama 6.6 bulan ya atau 6.4 lah bulan dan pembayaran utang luar negeri pemerintah ya untuk impor dan membayar kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo. Kondisi ini memberi ruang untuk dapat melakukan intervensi dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Demikian pula dengan inflasi yang saat ini menjadi momok untuk perekonomian global sampai saat ini dan masih relatif terkendali di Indonesia dengan langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia. Meskipun pada Juni kemarin headline inflation kita sudah menembus batas atas di 4.35% namun ini lebih digerakkan oleh komponen volatile food yang memiliki sifat seasonal.
Core inflation masih terjaga di level 2.63% sehingga BI masih mempertahankan suku bunga acuan di level 3.5% selama 16 bulan berturut-turut untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Dan untuk mengantisipasi transmisi dari dampak perlambatan ekonomi global termasuk ancaman inflasi yang semakin nyata, BI telah menjalankan tahap awal normalisasi kebijakan likuiditas yang lebih ditekankan pada liquidity management melalui kenaikan giro wajib minimum rupiah yang dilakukan secara bertahap dengan disertai pemberian insentif. Apabila inflasi terus merangkak naik tentunya berimbas pada kenaikan suku bunga acuan yang kemudian akan memberikan tekanan pada likuiditas perbankan yang tentu saja harus diwaspadai.
Oleh karena itu, untuk merespon berbagai tantangan tersebut, BRI menerapkan berbagai strategi dengan fokus pada enam aspek, yaitu enam aspek inilah yang kita sebut strategic response BRI terhadap policy response dan terhadap challenge yang datang dari domestik maupun global. Enam aspek itu pertama adalah funding sustainability melalui fokus penghimpunan CASA dan pengelolaan likuiditas yang optimal atau just right liquidity, ya. Sedangkan untuk penghimpunan CASA dilakukan dengan mengoptimalkan cash based transaction, mendorong penetrasi digital dan implementasi cash culture. Aspek yang kedua adalah asset quality, di mana di awal pandemi BRI secara proaktif melakukan restrukturisasi kredit sebagai upaya menyelamatkan kredit khususnya pada segmen UMKM yang paling terdampak oleh pandemi. Selanjutnya BRI secara bertahap menerapkan strategi soft landing melalui pengelolaan kualitas kredit yang lebih prudent dan membentuk pencadangan kredit yang memadai untuk memitigasi pemburukan kualitas kredit dan siap menghadapinya, menghadapi berakhirnya relaksasi restrukturisasi OJK pada Maret 2023.
Kami sudah siapkan strategi soft landing dan juga kita siapkan dengan pencadangan-pencadangan yang memadai sehingga apabila tiba-tiba OJK menghentikan kebijakan relaksasinya terutama di Maret 2023 rasanya kami sudah sangat-sangat mitigasi risiko itu. Aspek yang ketiga selective growth. BRI fokus tumbuh secara selektif di sektor-sektor yang minim dampak pandeminya termasuk dengan strategi business stimulus untuk mengoptimalkan potensi ataupun peluang dari program pemulihan ekonomi nasional. Aspek yang keempat optimizing new source of growth melalui ekosistem UMI, ya, Ultra Micro Ecosystem. Untuk mengoptimalkan potensi dari ekosistem Ultra Micro sebagai new source of growth pada September 2021 BRI bersama Pegadaian dan PNM membentuk holding Ultra Micro. Saat ini fokus kami adalah mengakselerasi rencana post integration dan mengoptimalkan sinergi holding. Aspek yang kelima adalah ESG, ya, Environmental, Social, and Governance. Pandemi telah memberikan pelajaran mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan sosial dan juga tata kelola perusahaan.
BRI telah memperkuat ESG governance melalui pembentukan divisi ESG dan komite ESG untuk memperkuat strategi ESG ke depan. Aspek yang terakhir adalah aspek yang keenam yang kita sebut excellent enablers. Sejak awal pandemi, BRI telah memperkuat pilar-pilar yang menjadi enablers pertumbuhan bisnis antara lain dengan menerapkan strategi people first untuk memastikan kesehatan dan keselamatan karyawannya dan juga nasabahnya. Selain itu dengan terakselerasinya shifting ke digital yang terjadi selama pandemi, BRI terus memperkuat transformasi digitalnya dan untuk memastikan keberhasilannya dikawal oleh transformasi culture. Berikutnya, saya ingin mengajak teman-teman untuk share di sini tentang performance highlights, ya, consolidated maupun bank only. Jadi urutannya kira-kira begini, ada challenge dari domestik maupun global di dalam perekonomian Indonesia. Kemudian pemerintah regulator mengeluarkan berbagai kebijakan yang kami nilai sebagai policies, policy responses.
Terhadap policy responses itu kami di BRI manajemen harus meresponnya dengan melakukan strategizing di berbagai aspek yang kami sebut strategic responses. Hasil dari strategic responses yang kami terapkan bisa kami laporkan yang akan dicerminkan dalam performance highlights, ya, consolidated maupun bank only. Rekan-rekan analis, ya, upaya BRI dalam menerapkan berbagai strategic responses di tengah berbagai tantangan ekonomi menunjukkan hasil yang positif dan hal ini dicerminkan oleh kinerja BRI yang solid dan resilient baik secara konsolidasi maupun bank only. Berikut saya akan memaparkan secara singkat kinerja BRI baik secara konsolidasi maupun bank only dan kemudian direktur keuangan akan memaparkan lebih detail. Secara konsolidasi total aset BRI pada first semester mencapai IDR 1,652.8 triliun rupiah yang itu artinya tumbuh 6.4% year-on-year.
Pertumbuhan total aset didorong oleh kredit dan pembiayaan yang secara konsolidasi mencapai IDR 1,104.8 triliun atau tumbuh 8.7% year-on-year. Adapun kredit BRI secara bank only mencapai IDR 1,003.6 triliun atau tumbuh 10.0% year-on-year. Pertumbuhan kredit secara konsolidasi lebih rendah dari bank only dikarenakan salah satu perusahaan anak BRI yaitu Bank Raya tengah fokus pada strategi transformasi yang dilakukan untuk menjadi suatu bank digital. Kemudian total dana pihak ketiga secara konsolidasi mencapai IDR 1,136.9 triliun atau tumbuh 3.7% year-on-year. Sementara secara bank only mencapai IDR 1,128.2 triliun atau tumbuh 4.6% year-on-year.
Pertumbuhan dana pihak ketiga baik konsolidasi maupun bank only masih didorong oleh pertumbuhan dana murah atau yang kita sebut current and saving account, CASA, yang tercatat tumbuh double-digit sekitar 13% pada semester 1 2022 ini. Net profit BRI tumbuh hampir dua kali lipat. Net profit konsolidasi naik 98.4% year-on-year dari IDR 12.5 triliun menjadi IDR 24.9 triliun. Didukung pencapaian net profit bank only sebesar IDR 23.8 triliun dan seluruh perusahaan anak yang telah berkontribusi secara positif.
Rasio-rasio keuangan lain yang juga relevan untuk kami sampaikan sebagai bagian daripada kinerja BRI yang sangat solid, bisa kami sampaikan bahwa kondisi likuiditas sangat manageable, di mana LDR secara konsolidasi berada pada level 88.5% atau naik 3.8% dari 84.6% pada first semester tahun lalu. Sedangkan LDR bank only berada pada level 89.0% atau naik 4.4% dibandingkan 84.5% pada semester pertama tahun lalu. Komposisi CASA secara tren terus menunjukkan kenaikan yang konsisten mencapai 65.1% pada first quarter ini secara konsolidasi, naik dari 59% pada first quarter tahun lalu. Jadi CASA kita sekarang porsinya sudah 65.1%.
Kualitas kredit relatif terjaga dengan NPL konsolidasi sebesar 3.26% pada semester pertama tahun ini atau sedikit naik dibandingkan semester pertama tahun lalu 3.21%. NPL konsolidasi lebih rendah dibandingkan bank only yang tercatat sebesar 3.32%. Pencadangan kredit sangat memadai dengan NPL coverage mencapai 266.3%. Peningkatan rasio kas telah mendorong efisiensi biaya dana dan penurunan pada cost of fund. Secara konsolidasi, cost of fund berada pada level 1.9% atau turun 50 basis poin dibandingkan 2.4% pada semester pertama tahun lalu. Secara bank only, cost of fund juga mencatat penurunan sehingga mencapai 1.7%. Cost of fund bank only hanya 1.7% atau turun 50 basis poin dari tahun lalu, yaitu 2.2%.
Net interest margin konsolidasi mencapai 8.24%. Saya ulangi lagi, net interest margin konsolidasi mencapai 8.24% atau naik signifikan sebesar 83 basis poin dibandingkan first quarter tahun lalu sebesar 7.41% dan di atas NIM bank only karena bank only kita hanya menghasilkan NIM 7.35%. Pencapaian NIM ini didukung oleh kinerja Pegadaian dan PNM. Kemudian cost efficient CIR, cost to income ratio, cost to income ratio secara konsolidasi berada pada level 44.3% atau masih meningkat 3.6% dibandingkan semester pertama tahun lalu berada di 40.7%. Sementara secara bank only, level CIR kita lebih rendah dan berhasil ditekan turun dari 39.8% pada tahun lalu menjadi 37.1% pada semester pertama tahun ini.
Kami melihat masih terdapat room for improvement untuk BRI untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, khususnya melalui sinergi Ultra Micro. Demikian juga PPOP, secara konsolidasi berada pada level 69.6% atau turun, minus 10.8% dibandingkan 80.3% pada first semester tahun lalu. PPOP untuk bank only turun, minus 14.3% dari level 78.3 pada semester satu tahun lalu menjadi 64.0% pada semester satu tahun ini. Kinerja top line yang kuat dengan juga dibarengi oleh berbagai efisiensi kemudian mendorong perbaikan rasio-rasio profitabilitas. ROA after tax secara konsolidasi naik secara signifikan sebesar 1.4% ke level 3.0% dari 1.61% pada first semester tahun lalu.
Sedangkan secara bank only naik 1.3% dari level 1.82% menjadi 3.11%. Demikian pula ROE balance sheet. ROE balance sheet secara konsolidasi naik 6.5% menjadi 17.48% dari sebelumnya 10.98% pada first quarter tahun lalu. Sedangkan secara bank only, ROE balance sheet mencapai level 17.08% atau naik 4.2% dibandingkan 12.90% pada first quarter tahun lalu. Terakhir, kondisi permodalan sangat kuat dengan total CAR secara konsolidasi berada pada level 25.1%, sehingga mampu mensupport pertumbuhan kredit yang sustain, memitigasi risiko bisnis, serta memberikan ruang untuk dividen yang sustain.
Bapak, Ibu, para rekan-rekan analis, ingin saya sampaikan dengan melihat kinerja kita seperti itu, maka ke depan, ya, dengan mengelola dan memitigasi risiko-risiko yang datang dari eksternal, baik domestik maupun global, rasanya syarat untuk tumbuh secara sustain terpenuhi oleh BRI. Menurut saya, syarat untuk bisa tumbuh ada tiga. Yang pertama, kita mesti menetapkan target pertumbuhan, target market untuk menjadi sumber pertumbuhan baru, sumber pertumbuhan yang sustain, dan itu kita sudah tetapkan di holding Ultra Mikro. Syarat yang kedua adalah kecukupan modal. Dengan CAR kita yang 25.1%, rasanya saya bisa sampaikan bahwa sampai 2-3 tahun ke depan, modal kita cukup untuk mendukung pertumbuhan secara sehat. Syarat yang ketiga tentunya adalah ketersediaan likuiditas. Inilah yang kita harus bertarung di pasar mengikuti dinamika di pasar. Rekan-rekan analis, demikianlah yang bisa saya sampaikan.
Pemaparan selanjutnya akan disampaikan oleh Direktur Keuangan, Ibu Vivi, terkait detail kinerja keuangan baik secara konsolidasi maupun bank only. Nanti Direktur Manajemen Risiko, Pak Agus Sudiarto, akan memaparkan terkait likuiditas dan kualitas aset, dan juga Direktur Bisnis Mikro, Pak Supari, akan memaparkan terkait mikro bisnis dan ultra mikro ekosistem. Untuk pertama kami berikan kepada Ibu Viviana, saya persilakan.
Terima kasih, Pak Dirut. Selamat siang rekan-rekan, saya akan coba cepat karena sudah sekitar 30 menit. Untuk kinerja kita akan mulai dari kinerja konsolidasi. Kalau kita lihat tadi sudah disampaikan bahwa untuk total aset konsolidasi tumbuh 6.4% tentunya di-drive oleh kredit dan pembiayaan dari BRI Group yang tumbuh kurang lebih sekitar 8.7% year-on-year. Kalau kita lihat di sini untuk aset produktif yang non kredit turun 4.7% year-on-year karena memang kita melakukan optimalisasi atas dana rights issue yang kita peroleh di akhir tahun 2021 kemarin. Selanjutnya, secara khusus kalau kita lihat pertumbuhan dari loan dan financing composition, kita lihat sumber pertumbuhan utama yang mendorong itu tentunya yang pertama berasal dari BRI induk yang tumbuh 10%, kemudian PNM itu tumbuh sekitar 27% year-on-year.
Sementara memang ada perusahaan anak yang sedikit menurunkan gitu ya pertumbuhan dari BRI Group dari 10% tadi bank only menjadi 8.7, yaitu Bank Raya. Nah, kalau kita melihat berdasarkan segmen atas pertumbuhan masing-masing segmen, maka drivernya tentunya masih berasal dari segmen mikro dan ultra mikro yang tumbuh 15.1% year-on-year. Untuk segmen yang lain masih mencatatkan pertumbuhan yang positif untuk korporasi masih align dengan aspirasi kita. Aspirasi untuk segmen korporasi bukan lagi menjadi aset driver ke depan, sehingga dia hanya tumbuh sekitar 3.8% year-on-year. Ini mendorong komposisi kredit UMKM naik dari sekitar 82% di Juni 2021 menjadi 83% di Juni 2022. Lanjut kita ke profitability.
Rekan-rekan sekalian, kalau kita melihat pada income statement NII atau Net Interest Income itu tumbuh 17.6% year-on-year. Kali ini kontribusinya tidak hanya berasal dari efisiensi biaya bunga yang turun sebesar 18.3% year-on-year, tetapi juga peningkatan pendapatan bunga yang tumbuh 9.9% year-on-year. Hal ini tentunya sejalan dari tadi yang kami sampaikan. Yang pertama adalah optimalisasi yield dari hasil right issue. Yang kedua memang fokus pertumbuhan kepada segmen UMKM, terutama mikro dan ultra mikro yang memiliki yield lebih tinggi. Hal ini yang mendorong pertumbuhan NII cukup signifikan untuk sampai dengan Juni 2022. Selanjutnya, kalau kita bicara mengenai fee income, secara grup tumbuh 7.8% year-on-year. BRI induk masih menjadi penyumbang utama perolehan fee based income tersebut dengan nilai mencapai sekitar IDR 8.8 trillion.
Selanjutnya, kalau kita bicara mengenai operating expense. Operating expense meningkat 7.9% year-over-year masih berada di dalam range guidance kami 6%-8%. Secara bank only pertumbuhan Opex hanya di kisaran 6%. Namun demikian memang sebagaimana kita ketahui dalam proses integrasi bersama dengan PNM dan Pegadaian, terutama di PNM, masih terjadi kenaikan Opex di PNM kurang lebih sekitar 30% year-over-year, yang tentunya akan menjadi fokus bagi BRI, bagaimana nanti ke depan untuk melakukan efisiensi terutama bisnis proses di teman-teman di PNM. Dengan NII fee income serta operating expense tadi, maka PPOP itu mencapai IDR 48 trillion atau masih tumbuh signifikan di 17.9% year-over-year.
Kalau kita melihat mengenai pencadangan, biaya provisi, turun 24.2% year-on-year, terutama masih disumbang oleh BRI induk dan juga Bank Raya serta Pegadaian. Secara total net profit ada di kisaran IDR 24.9 trillion tumbuh 98% dengan seluruh kontribusi dari perusahaan anak sudah positif. Mungkin saya lanjut ke rasio-rasio. Kalau kita lihat di sini untuk NPL masih di kisaran terjaga 3.26% dengan coverage yang memadai. Selain BRI yang mengalami memang kenaikan NPL secara bank-only, Bank Raya juga mengalami kenaikan NPL. Kemudian kalau kita lihat rasio-rasio yang lain seperti, loan-to-deposit ratio mencatat kenaikan tapi masih manageable untuk, loan-to-deposit ratio bank itu ada di kisaran 88%.
Untuk cost of fund, so far kami masih bisa menurunkan dari 2.4% menjadi 1.9%, sehingga membantu perolehan atau peningkatan dari NIM dari 7.4% menjadi 8.24%. NIM BRI sendiri bank only itu 7.35% dan kemudian...Kita dikontribusi oleh net interest margin yang berasal dari Pegadaian dan PNM yang rekan-rekan ketahui berada di kisaran, dua puluh persen. Kemudian untuk credit cost, juga turun dari 3.7% menjadi 3.1% di Juni 2022. Kita akan masuk ke bank only rekan-rekan sekalian. Oke, untuk bank only, driver pertumbuhan kredit berasal dari segmen mikro 16% year-over-year dengan komposisi memang driver masih berasal dari kredit usaha rakyat.
Kalau kita lihat tren pertumbuhan Kupedes dalam 1-2 bulan ini, memiliki pertumbuhan yang tertinggi, sehingga kita masih optimis bahwa sampai dengan akhir tahun ini Kupedes akan tumbuh positif. Kemudian kalau kita lihat SME tumbuh secara total itu 6%, consumer itu 5.4%, tetapi sebenarnya kalau kita normalize karena kita sudah mengeluarkan KKB atau autoloan itu ke BRI Finance, consumer ini tumbuh di kisaran 6.3%. Selanjutnya untuk penghimpunan dana pihak ketiga. Dana pihak ketiga secara bank only tumbuh 4.6% year-on-year, disumbang oleh kenaikan giro tumbuh sekitar 26.8% dan tabungan 8.3% year-on-year. Tabungan baik BritAma maupun Simpedes memiliki kontribusi positif yang sama dua-duanya tumbuh positif.
Di semester satu ini tadi disampaikan oleh Pak Dirut bahwa kita tumbuh dengan just right liquidity, maka memang terjadi penurunan deposito sekitar 9.2% year-on-year. Ke depan kami akan berusaha me-manage pertumbuhan terutama deposito ritel menghadapi ketatnya likuiditas di semester yang kedua. Untuk rasio kas masih bisa kita tingkatkan dari 60% menjadi 65% di first half 2022. Masuk ke profitability, kita lihat NII tumbuh sekitar 16%, driven oleh dua faktor baik pendapatan bunga maupun efisiensi dari beban bunga. Fee-based income tumbuh 7.8% year-on-year terutama berasal dari non e-channel fee yang tumbuh cukup signifikan 53%, kemudian insurance-related fee tumbuh 46%, dan juga sebenarnya ada recovery yang juga tumbuh signifikan untuk fee and other operating income.
Opex tumbuh 6.2%, terutama memang ini berasal dari biaya promosi karena semakin intensnya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat dan juga aktivitas bisnis sehingga mulai marak kegiatan bisnis dan promosi yang dilakukan secara offline. Selanjutnya kalau kita lihat PPOP tumbuh 18.7% year-on-year, kemudian provision expense turun sekitar 27% year-on-year disumbang oleh penurunan pada segmen korporasi yang sudah kita buku di tahun 2021. Secara keseluruhan net profit bank only mencapai IDR 23.8 triliun atau tumbuh sekitar 91%. Selanjutnya untuk rasio-rasio, rekan-rekan sekalian kalau kita lihat, rasio likuiditas yang digambarkan dari loan to deposit ratio di kisaran 89%, meningkat.
Untuk MIR sekitar 87%, kemudian untuk cost of fund masih bisa kita tekan turun dari 2.18% menjadi 1.70%. Ini cost of fund, total cost of fund kalau bicara cost of deposit sendiri sebenarnya masih turun dari 2.02% Juni tahun lalu. Saat ini per Juni 2022 cost of deposit itu 1.56%. Selanjutnya bicara net interest margin mengalami peningkatan dari 7.02 menjadi 7.35%. Selanjutnya credit cost BRI year-on-year memang meningkat dari, memang menurun dari 4.1 menjadi 3.35.
Kalau teman-teman melihat angka monthly-nya memang cenderung ada kenaikan atau flat gitu ya karena memang mungkin nanti akan dijelaskan Pak Agus Sudiarto, tahun ini fokus untuk provisions adalah untuk segmen SME dan BRI, di awal Q2 sudah tidak lagi menggunakan relaksasi dari OJK untuk kategorisasi dari kualitas aset. Pertumbuhan laba yang tadi kita sampaikan tentunya sangat mendukung terhadap rasio-rasio profitabilitas seperti ROA maupun ROE. Nah, demikian pemaparan terkait kinerja konsolidasi maupun bank only rekan-rekan sekalian. Selanjutnya, Pak Agus Sudiarto dan Pak Supari rekan saya akan menyampaikan empat hal utama yang diambil dari enam strategic respon BRI yang tadi disampaikan oleh Pak Dirut.
Empat fokus utama ini akan menjadi fokus dari manajemen BRI dalam satu tahun ke depan, apa saja yang akan kita lakukan terkait dengan funding sustainability, loan quality, kemudian bertumbuh secara selektif, di UMKM dan juga bagaimana post integration plan. Selanjutnya kami persilakan Pak Agus Sudiarto.
Baik, terima kasih Bu Vivi. Rekan-rekan analis, sebagaimana tadi disampaikan juga oleh Bu Vivi dan juga oleh Pak Dirut, maka pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa hal yang menjadi isu dari perkembangan, yaitu terkait dengan risiko pengelolaan risiko likuiditas dan juga kualitas kredit BRI. Yang pertama tentu seperti yang disampaikan adalah pengelolaan likuiditas di tengah ancaman inflasi dan perlambatan ekonomi yang telah direspon BI dengan memulai normalisasi likuiditas melalui kenaikan GWM yang berpotensi juga akan diikuti oleh kenaikan benchmark rate. BRI secara konsisten menjaga kondisi likuiditas pada level yang manageable dan di atas ketentuan minimal dari regulator.
Apabila kita melihat ke belakang pada beberapa rate cycle yang terjadi sebelumnya, BRI dapat mengelola kondisi likuiditasnya baik secara pemenuhan ketentuan Loan to Deposit Ratio atau LDR maupun Rasio Intermediasi Makroprudensial atau RIM di dalam regulatory range yang dipersyaratkan pada level yang kami sebut sebagai just right liquidity untuk tetap menunjang pertumbuhan bisnis. Dalam pengelolaan risiko likuiditas jangka pendek, BRI juga memiliki high quality liquidity asset yang memadai sehingga rasio liquidity coverage-nya di lebih dari 186% di atas ketentuan regulator yang 100%. Begitu juga untuk pengelolaan risiko likuiditas jangka panjang, BRI mendanai aktivitasnya dengan sumber dana stabil dan menjaga rasio Net Stable Funding Ratio di atas 131% yang berarti juga di atas ketentuan regulator yang sebesar 100%.
Untuk pemenuhan ketentuan Penyangga Likuiditas Makroprudensial atau PLM sebagai cadangan likuiditas minimum yang harus dijaga oleh bank dengan ketentuan minimum 6%, saat ini BRI berada di level 16.2% jadi jauh di atas ketentuan yang dipersyaratkan. Secara umum, dana pihak ketiga atau DPK masih merupakan sumber dan alternatif utama pendanaan untuk menunjang pertumbuhan bisnis BRI. Namun, seandainya pun menghadapi kenaikan permintaan kredit yang signifikan, BRI masih memiliki treasury aset dalam jumlah yang memadai sebagai alternatif pendanaan. Saat ini sebagai informasi non loan earning asset dibanding total aset BRI masih mencapai 31.8%. Untuk memperkuat sumber pendanaan utama, yaitu DPK, maka dilakukan inisiatif penghimpunan kas yang berbasis transaksi, eksplorasi ekosistem digital, memperkuat keterikatan nasabah existing melalui pengembangan fitur produk, memaksimalkan peluang sinergi dari BRI Group maupun menciptakan suatu funding culture yang dikaitkan dengan kinerja.
Untuk pendanaan alternatif, BRI juga dapat melakukan optimalisasi treasury aset dan mengeksplorasi kemungkinan pendanaan eksternal dari capital market. Rekan-rekan analis selanjutnya yang juga menjadi perhatian dan fokus kami saat ini adalah mengenai kualitas kredit. Seperti disampaikan oleh Pak Direktur Utama, di awal masa pandemi, BRI secara aktif melakukan restrukturisasi kredit sebagai upaya penyelamatan kredit, khususnya di segmen UMKM. Kita ingat pada saat itu total nasabah yang kita restrukturisasi kurang lebih hampir 3 juta nasabah. Hal ini menyebabkan kenaikan outstanding loan at risk atau LAR BRI yang cukup signifikan sehingga mencapai puncaknya pada tahun 2020. Pada tahun 2021, BRI memulai penerapan soft landing strategy khususnya setelah semester dua sebagai upaya pengelolaan kredit bermasalah yang lebih prudent untuk mengantisipasi berakhirnya relaksasi kebijakan restrukturisasi kredit oleh OJK pada bulan Maret 2023 nanti.
Soft lending ini kami lakukan dengan berbagai inisiatif, di antaranya melakukan monitoring yang ketat terhadap kredit bermasalah untuk mengantisipasi tren memburukan kredit. Kemudian secara lebih selektif melakukan upaya restrukturasi kredit, khususnya restrukturasi berulang yang hanya akan kita berikan pada nasabah yang benar-benar masih memiliki potensi ke depannya dan melakukan percepatan proses downgrade kualitas kredit bermasalah sehingga kita tidak menahan kredit-kredit yang sebenarnya sudah tidak layak dengan terus melakukan upaya restrukturisasi. Upaya lain adalah dengan melakukan pembentukan pencadangan yang memadai untuk memitigasi pemburukan kredit. Dapat kami sampaikan bahwa sejak triwulan 1 2022, pembentukan pencadangan kredit BRI sudah tidak lagi menggunakan relaksasi OJK, sehingga pencadangan yang tersedia telah mencerminkan kondisi kualitas kredit yang sebenarnya sesuai yang ditentukan dalam PSAK 71.
Strategi menunjukkan hasil yang baik di mana LAR BRI secara konsisten menunjukkan tren penurunan dari titik tertinggi di sekitar 28.3% menjadi posisi 20.8% pada Juni 2022. Pembentukan pencadangan juga terus kami lakukan secara memadai sehingga LAR coverage meningkat saat ini mencapai 42.39% dan NPL coverage di level 265.15%. Dari sisi non-performing loan sebagai konsekuensi dari soft lending strategy memang ada kenaikan sejak awal pandemi. Bila dilihat secara year-on-year, NPL BRI naik dari 3.27% menjadi 3.32%, masih di atas guidance 2022 sebesar 2.8%-3%. Kenaikan NPL terbesar disebabkan oleh segmen mikro yang merupakan dampak dari soft lending strategy yang kami lakukan.
Sedangkan NPL untuk segmen korporasi sudah mengalami penurunan setelah puncaknya di tahun yang lalu. Penurunan NPL di segmen korporasi dari 7.06% pada tahun yang lalu menjadi 5.52% di semester tahun ini disumbang perbaikan kualitas nasabah di sektor industri apa pun ataupun adanya penyelesaian yang dilakukan terhadap beberapa nasabah korporasi. Sejalan dengan strategi soft landing yang sudah dilakukan sejak 2021, posisi NPL Juni 2022 kami perkirakan merupakan posisi NPL tertinggi tahun ini. Sehingga guidance NPL rasio di akhir tahun nanti mudah-mudahan bisa kita capai di posisi 2.8%-3%. Sementara untuk outstanding risiko COVID-19 dapat kami sampaikan bahwa perbaikan LAR didorong oleh penurunan outstanding kredit risiko terdampak COVID-19. Sampai dengan semester pertama 2022, outstanding kredit restrukturisasi COVID-19 sebesar IDR 129.6 triliun atau 12.9% dari total pinjaman.
Turun signifikan dari semester pertama 2021 yang masih sebesar IDR 175.2 triliun atau 19.2% dari total kredit, di mana penurunan ini terutama disumbangkan dari segmen mikro. Ke depan kami melihat tren penurunan kredit restrukturisasi COVID juga terus berlanjut dan secara konservatif kredit restrukturisasi COVID akan berada di bawah IDR 120 triliun pada akhir tahun 2022. Dari total akumulasi restrukturisasi COVID-19 sampai dengan semester satu 2022 yang sebesar IDR 252.7 triliun, telah tercatat penurunan outstanding lebih dari IDR 123 triliun yang utamanya disumbang oleh pembayaran pinjaman sebesar IDR 81.5 triliun baik karena pelunasan maupun pembayaran pokok, kemudian unflagging atau pelepasan restrukturisasi yang karena kondisi debitur sudah pulih seperti sebelum pandemik sebesar IDR 31.5 triliun.
Sisanya sebesar IDR 10.2 triliun dilakukan upaya hapus buku karena memang kondisi nasabah sudah tidak mempunyai kemampuan sama sekali. Sesuai soft landing strategi yang kami terapkan saat ini 91.7% dari kredit restrukturisasi COVID berada pada stage 2 dan sisanya berada pada stage 3, sementara secara kolektabilitas 72.5% berada pada kolektabilitas lancar, 19.2% pada kondisi DPK atau dalam perhatian khusus, dan sisanya 8% adalah NPL. Dari sisi pencapaian realisasi hapus buku pada semester pertama 2022 ini sudah mencapai IDR 9 triliun dengan recovery income mencapai IDR 5 triliun atau naik 19% dibandingkan periode yang sama tahun yang lalu. Sehingga recovery rate berada pada posisi 56%.
Kenaikan recovery income selain ditopang oleh perbaikan kemampuan debitur juga didorong oleh strategi untuk pemberian bobot KPI recovery income dan recovery rate kepada setiap unit kerja, percepatan lelang agunan, dan kerja sama dengan pihak ketiga atau swasta dalam memasarkan agunan. Ke depannya kami akan tetap jaga recovery rate ini pada posisi 50%-55%. Dari sisi credit cost dengan terus berlanjutnya perbaikan kualitas kredit bersamaan dengan strategi pembentukan pencadangan sejak awal kami lakukan secara konservatif telah memberi ruang untuk dapat melakukan normalisasi credit cost yang saat ini telah mulai menunjukkan penurunan untuk mencapai credit cost yang lebih rendah sesuai guidance tahun ini di posisi di bawah 3%. Demikian paparan mengenai kualitas kredit dan manajemen risiko BRI. Selanjutnya pemaparan akan disampaikan oleh Direktur Bisnis Mikro, Bapak Supari. Kami persilakan.
Terima kasih Pak Agus Sudiarto. Rekan-rekan analis, tadi sudah disampaikan oleh Pak Sunarso, CEO BRI Group terkait dengan 6 aspek yang menjadi concern perseroan di tengah tantangan yang tidak mudah. Selanjutnya, saya akan menyampaikan strategi perseroan dalam menjawab tantangan untuk tetap dapat tumbuh berkelanjutan khususnya di segmen bisnis mikro dan ultra mikro. Sebelumnya telah disampaikan bahwa perseroan akan tetap fokus untuk tumbuh pada segmen mikro yang memiliki yield tinggi dan memastikan keberlanjutannya dengan semakin menjangkau segmen lower mikro, go smaller, go shorter. Inisiatif integrasi ekosistem ultra mikro berupa pendirian holding ultra mikro yang melibatkan 3 entitas BRI, PNM, dan Pegadaian akan menciptakan journey yang terintegrasi serta mekanisme yang sistematis untuk menunjang sustainability pertumbuhan bisnis segmen mikro. Pandemi COVID-19 telah menurunkan kapasitas usaha pelaku UMKM sampai dengan titik terendah hampir sebesar kurang lebih 70% dan hingga saat ini masih belum sepenuhnya pulih.
Oleh karena itu, respons strategi BRI, business follows stimulus, masih fit untuk merespons kondisi lingkungan bisnis sampai dengan tahun 2022 ini. Pertumbuhan pinjaman segmen mikro sampai dengan semester satu 2022 yang didorong oleh penyaluran KUR mengkontribusikan pertumbuhan double digit. Di tahun 2022, alokasi KUR BRI sebesar IDR 260 triliun atau 68% dari alokasi nasional. Optimis dapat kami capai. Penyaluran KUR BRI sampai dengan semester satu 2022 telah mencapai angka 48% dari kuota, lebih cepat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya 46%. Sekalipun kapasitas usaha nasabah pelaku UMKM belum sepenuhnya kembali pada level normal, perseroan tetap concern dengan pertumbuhan produk non-KUR atau Kupedes dengan berbagai strategi antara lain membangun kebutuhan para pelaku UMKM dengan program Entrepreneurship Healing, meningkatkan engagement fungsi-fungsi yang terkait di organisasi bisnis mikro dengan KPI yang semakin tajam.
Kita men-launch model breakdown alokasi KUR yang baru kepada para menteri yang sebelumnya tidak mengaitkan dengan pertumbuhan Kupedes, sekarang menjadi mengaitkan dengan pertumbuhan Kupedes. Di samping itu juga dilakukan beberapa inisiatif untuk meremajakan produk-produk dan layanan di segmen mikro sesuai dengan journey kebutuhan nasabah yang antara lain menaikkan plafon Kupedes menjadi IDR 500 juta, otomasi renewal, men-launch new business model dengan memonetisasi agen keliling. Hasil dari implementasi inisiatif ini dapat dilihat dari disbursement Kupedes yang tumbuh positif sebesar 25.2% year-over-year pada semester satu 2022 ini. Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan satu tahun 2022 yang year-over-year 21.6%. Overall disbursement bulanan juga menunjukkan tren positif dengan peningkatan sebesar 38% dibandingkan bulan Mei 2022.
Hal ini menjadi indikator positif dan perseroan yakin produk mikro non-KUR akan memberikan kontribusi pertumbuhan yang signifikan sampai dengan tahun ini, akhir tahun ini, dan juga tahun-tahun berikutnya. Terakhir, saya akan mengupdate progres sinergi pasca integrasi ekosistem Ultra Mikro melalui holding tiga entitas BRI, Pegadaian, dan PNM yang saat ini berada pada fase pertama atau fase set up the foundation. Hasil sinergi pasca integrasi ekosistem Ultra Mikro sampai dengan semester 1 2022 ini ditunjukkan dengan progres atas tiga inisiatif utama co-location, kemudian juga utilisasi SenyuM Mobile, serta hasil dari integrasi data Ultra Mikro. Target 2022 co-location sebanyak 1,000 unit kerja sekarang sudah tercapai 1,002 unit kerja. Artinya di semester dua ini kita tinggal untuk bagaimana 1,002 outlet SenyuM ini meningkatkan produktivitasnya sehingga impact pada kinerja tiga entitas itu signifikan.
Terkait dengan platform yang merupakan engine penjualan tiga entitas sekarang sudah digenggam, sekarang sudah digunakan hampir 66,000 tenaga pemasar di tiga entitas AO Mekaar, RM Pegadaian, dan juga Mantri BRI. Isu utama dari SenyuM Mobile adalah engagement mereka. Oleh karena itu, di semester dua ini kami akan meningkatkan engagement mereka sehingga benar-benar nanti SenyuM Mobile menjadi engine pertumbuhan dan engine penjualan tiga para tenaga pemasar di tiga entitas. Rekan-rekan analis, terkait dengan integrasi data Ultra Mikro dari tiga entitas, kita sudah mendapatkan lebih dari 25 juta data dengan parameter yang cukup untuk dijadikan sebagai lead manajemen tiga entitas, kemudian juga kita sudah gunakan sebagai bagian dari upaya kita memperbaiki risk management khususnya di Pegadaian dan juga di PNM dan konkretnya kita sudah memberikan sebuah alternatif credit scoring.
Rekan-rekan analis, tadi sudah saya sampaikan masih terdapat isu terkait dengan utilisasi SenyuM Mobile yang merupakan engine penjualan 3 entitas. Oleh karena itu, kami akan segera meningkatkan engagement terhadap kepada para tenaga pemasar atas business process yang baru ini dan menurut kami budaya kerja menjadi penting khususnya terkait dengan utilisasi SenyuM Mobile dan juga implementasi atas 7 inisiatif sinergi yang lain. Kami telah membentuk tim dan program aktivasi budaya kerja yang kami namakan Brigade Madani. Tim ini akan fokus pada 3 tujuan. Yang pertama adalah internalisasi nilai-nilai inti AKHLAK, percepatan engagement atas implementasi 7 inisiatif strategi pasca holding, dan juga yang ketiga adalah memastikan tercapainya KPI Ultra Micro Holding tahun 2022 berupa penguatan ketahanan UMKM melalui indikator 3,000 ri.
Apa nasabah Mekaar naik kelas, kecepatan inklusi dengan 5 juta akuisisi nasabah UMI baru, dan membangun ekosistem cashless 100% di PNM dan Pegadaian, dan yang terakhir ini akan menjadi engine kita untuk menguatkan dana murah induk. Selanjutnya, beberapa aspek keuangan terkait dengan efisiensi seperti cross-over, PPOP, CIR juga terus menunjukkan perkembangan yang positif seperti yang kami harapkan dari sinergi holding Ultra Micro ini. Demikian paparan kami. Selanjutnya, Bu Vivi akan memaparkan terkait dengan guidance 2022. Silakan, Bu Vivi.
Baik, terima kasih, Pak Supari. Rekan-rekan, untuk guidance, saya mungkin akan menjelaskan yang berubah saja karena keterbatasan waktu. Yang pertama adalah net interest margin. Net interest margin semula guidance-nya adalah, ini secara grup 7.6%-7.8%. Melihat pencapaiannya di June 2022 8.2%, maka kita merevisi untuk guidance sampai dengan akhir tahun ini untuk NIM 7.7%-7.9%. Meningkat dari guidance awal tetapi turun dari posisi Juni. Penurunan ini memperhitungkan atau mempertimbangkan mostly itu dua hal. Yang pertama adalah potensi kenaikan dari BI Rate. Kami mengestimasikan 75-100 basis point. Yang kedua mungkin ini yang penting untuk teman-teman ketahui, di Q3 ini salah satu nasabah korporasi kami Garuda Indonesia yang sudah mendapatkan putusan homologasi.
Kami saat ini sedang menunggu putusan resmi dari pengadilan. Nah, pada saat itu nanti terjadi kami terima maka akan ada penyesuaian atas pendapatan bunga debitur ini sehingga akan mempengaruhi komponen pendapatan bunga di BRI. Itu dua hal. Yang berubah juga adalah cost of credit. Cost of credit semula 2.8%-3% per Juni itu 3.1% kita revisi guidance-nya menjadi 2.7%-2.9% di akhir tahun dengan pertimbangan yang pertama tadi restrukturisasi terhadap salah satu debitur korporasi tadi.
Secara P&L itu tidak ada impactnya tetapi di NIM akan ada modification loss kemudian akan ada penyesuaian untuk cost of provisions atas debitur ini dan kemudian yang kedua kita juga optimis sebenarnya bahwa non-performing loan itu akan membaik di semester dua dan kita sudah cukup membuku cukup banyak provisions di semester satu ini sehingga ke depan untuk cost of credit kita optimis dapat tercapai di 2.7% sampai dengan 2.9%. Demikian rekan-rekan sekalian revisi guidance. Selanjutnya kami kembalikan kepada moderator.
Ya, baik, Bu Vivi. Terima kasih untuk pemaparannya dari para direksi BRI. Jadi kita akan langsung memulai untuk sesi tanya jawab. Jadi kami sudah ada beberapa dari peserta yang mengajukan pertanyaan. Mungkin karena memang ada keterbatasan waktu, mohon maaf, nanti akan hanya ada beberapa yang bisa kita respons di kesempatan ini. Mungkin yang pertama, silahkan Pak Joshua tanya untuk bisa unmute dan mengajukan pertanyaannya.
Terima kasih Bu Dewi, terima kasih manajemen BRI. Saya ada dua pertanyaan khusus mengenai strategi business stimulus. Saya perhatikan pertumbuhan KUR sangat agresif di sepanjang 2020 dan 2021. Saya ingin mendapatkan semacam gambaran mengenai aset quality dari KUR yang didisburse dua tahun itu. Apakah sama baiknya atau lebih baik dibandingkan dengan sebelum pandemi atau bagaimana? Yang kedua pertanyaannya mengenai NIM di kuartal dua ini yang naik. Berapa, ada berapa bagian yang mungkin one off karena accounting atau dan sebagainya? Ada berapa bagian yang mungkin bisa di continue? Jadi memang di guidance sudah diturunkan tetapi ingin tahu juga dari actualnya itu berapa persen yang datang dari sesuatu yang mungkin cuma one off dan berapa persen yang lainnya. Terima kasih.
Langsung ya? Baik, terima kasih Pak Yoshua untuk jawab pertanyaan pertama tentang business stimulus dan kemudian memang ini dorongan dari pemerintah untuk selama dua tahun terakhir sangat agresif untuk menggelontorkan KUR dan juga bahkan kita sudah dapat informasinya bahwa pemerintah merencanakan target penyaluran KUR di 2023 nanti akan menjadi IDR 470 triliun. IDR 470 triliun itu artinya nanti yang diamanahkan kepada BRI mungkin kurang lebih IDR 330 triliun itu. Kemudian pertanyaannya adalah gimana sih sebenarnya performanya penyaluran KUR ini terutama selama yang paling agresif dua tahun terakhir? Karena memang kredit hanya harus didorong lewat kredit yang berstimulus gitu, maka kemudian agresif sekali selama dua tahun terakhir. Untuk menjawab itu silahkan Direktur Manajemen Risiko Pak Agus nanti kalau misalnya Pak Supari ingin menambahkan silahkan.
Sedangkan pertanyaan kedua tentang NIM ini ada perubahan guidance berapa % kira-kira yang disebabkan oleh faktor yang sifatnya one-off dan berapa % yang sifatnya apa namanya recurring gitu ya. Nanti Bu Vivi yang akan menjelaskan itu. Silakan Pak Agus dulu.
Baik terima kasih Pak Dirut. Pak Jason terima kasih pertanyaannya. Jadi kami bersama-sama business unit tempatnya Pak Supari juga di risk management selalu berkoordinasi dan melihat secara ketat atas kondisi portfolio yang ada termasuk di dua segmen ini yaitu di KUR Mikro serta di Kupedes. Alhamdulillah di periode dua tahun ini 2020, 2021 dan 2022 kita lihat secara vintage untuk KUR Mikro itu default rate baik NPL maupun PH kredit yang diberikan tahun 2020 itu baru sebesar 2.56% default rate-nya yang terdiri dari yang NPL di posisi 1.01% dan yang sudah kita lakukan PH sebesar 1.55%. Sementara untuk default rate Kupedes yang diberikan sejak tahun 2020 itu default rate juga relatif rendah yaitu 2.72%. 1.72% dalam posisi NPL dan dalam posisi yang sudah kita PH sebesar 1%.
Ini semakin membaik tentu vintage-nya kalau tahun pemberiannya semakin mudah. Sebagai contoh untuk yang KUR Mikro di tahun 2021 default rate-nya hanya 0.83% yang sementara di tahun 2022 default rate-nya masih 0%. Sementara untuk Kupedes di tahun 2021 pemberian kreditnya default rate masih 0.75% yaitu 0.71 untuk NPL dan yang kita PH baru 0.04%. Demikian Pak Joshua.
Oke, silahkan Bu Vivi tentang perubahan guidance tentang NIM.
Baik Pak Joshua, terima kasih untuk pertanyaannya. Sebenarnya kalau kita lihat dari pencapaian Juni itu ya Pak itu sebenarnya turun sekitar 34 basis point sampai dengan 54 basis point untuk guidance NIMs revisi. Nah yang terkait one-off itu terkait dengan salah satu debitur korporasi tadi akan berpengaruh itu sekitar 22 sampai 24 basis point. Jadi mostly sebenarnya revisi ini disebabkan oleh one-off itu sekitar tadi sekitar 45%-60%. Kemudian untuk potensi kenaikan BI Rate sendiri sampai dengan 100 basis point itu berpengaruh sekitar 14 sampai 16 basis point. Kemudian tadi optimalisasi pertumbuhan yang fokus di high yield dan penyesuaian effective interest rate itu berkontribusi positif itu sekitar 5 sampai dengan 10 basis point. Demikian Pak Joshua, terima kasih.
Ya, baik, terima kasih, Bapak Ibu Direksi. Untuk pertanyaan selanjutnya kami persilakan Ibu Selvie Jusman dari Morgan Stanley, silahkan.
Terima kasih Bapak dan Ibu. Saya punya pertanyaan tentang asset quality. Jadi kalau misalnya asset quality-nya kalau saya lihat credit cost guidance-nya kan diturunin ya Pak. Tapi kalau misalnya kita lihat kondisi makro tahun depan kalau misalnya kita expect inflasi tahun depan mungkin lebih tinggi, bagaimana pandangan Bapak mengenai potensi credit cost tahun depan? Apakah kalau misalnya tahun ini sepertinya kalau dilihat dari kreditnya sendiri berarti kan first half lebih tinggi kalau gitu mungkin second half credit cost-nya akan lebih rendah. Bagaimana pandangan Bapak mengenai kondisi makro sendiri tahun depan? Oleh karena itu kalau misalnya management overlay apakah itu sesuatu yang sudah disiapkan atau untuk pertimbangannya di tahun 2023?
Bisa langsung dijawab?
Silakan Pak.
Baik terima kasih Bu Selvi, ya. Secara garis besar saya ingin sampaikan begini, nampaknya pemerintah masih melihat situasi makro masih vulnerable sehingga pemerintah masih tidak melepaskan pertumbuhan ekonomi, tidak dilepaskan sepenuhnya kepada sektor bisnis. Stimulus masih akan tetap dijalankan terutama ini adalah respon dari risiko-risiko yang muncul akibat global inflation yang tinggi kemudian sebenarnya domestik kita relatif solid sangat solid bahkan saya katakan ya. Tetapi tetap saja risiko-risiko itu perlu dimitigasi. Khusus untuk BRI sekali lagi saya katakan dengan lebih fokus kepada UMKM dan kemudian business plus stimulus strateginya nampaknya sih portofolio quality ya quality kita mudah-mudahan jauh dari episentrum gejolak global gitu. Apa sih arti dari bahasa saya bahwa BRI jauh dari episentrum gejolak global itu? Karena gejolak global inflasi mungkin nanti langsung terkait sama capital outflow, capital outflow nanti berpengaruh terhadap apa namanya nilai tukar dan lain-lain.
Itu transmisinya ke nasabah UMKM terutama mikro dan ultra mikro itu jauh gitu. Transmisinya itu lama. Yang penting kita mengambil sikap hati-hati selama masa trans-transmisi itu jangan sampai mereka kena transmisi itu gitu. Itu yang pertama. Yang kedua untuk jaga itu nampaknya sih tetap akan ada stimulus sehingga kalau nanti porsi KUR dinaikkan lagi sekarang tahun ini kan kita IDR 260 triliun porsi target KUR kita. Tahun depan hampir pasti kita akan dapat kebagian target IDR 330 triliun. Dengan IDR 330 triliun KUR yang di dalamnya ada unsur stimulus maka risiko yang ada di situ minimal 70% dari risiko itu di-cover asuransi, di-cover asuransi penjaminan kredit. Saya kira itu juga yang bisa menjelaskan kenapa kita bisa menurunkan guidance untuk aspek credit cost ya. Barangkali itu penjelasan dari saya secara prinsip gitu.
Mungkin ada Pak Agus Sudiarto atau Pak Supari yang ingin menambahkan, silahkan. Pak Agus Sudiarto, Director Risk Management.
Baik terima kasih Ibu Selvi pertanyaannya. Cost of credit tahun 2022 ini permodelannya kita buat di akhir tahun 2021. Jadi pada saat itu sebenarnya kalau kita lihat di 2021 kan kita cukup optimis tapi kemudian ada second wave COVID yang kemudian mempertimbangkan kami di BRI untuk lebih konservatif. Andai lah kok di periode-periode belakangan ini kondisi makro ekonomi kita juga tidak sebagus seperti tahun yang lalu sehingga BRI cost of credit-nya relatif sudah seolah-olah
Proaktif untuk membentuk pencadangan yang lebih konservatif. Nah, dalam 3 tahun COVID ini yang kita mulai dari tahun 2020, 2021 dan mungkin 2022 kita sudah cukup membentuk cost of credit yang cukup memadai. Karenanya meskipun nanti tetap akan kita lihat makro di tahun 2023 seperti apa tapi mungkin posisi cost of creditnya akan lebih rendah dari posisi cost of credit di tahun 2022. Tentu kita berharap kondisinya akan terus membaik secara berkelanjutan sehingga nanti pada periode-periode selanjutnya di 2024 maupun 2025 cost of credit di BRI akan lebih normal seperti situasi sebelum pandemi. Mungkin itu Bu Selvi tambahan dari saya. Terima kasih.
Ya, baik, terima kasih untuk responnya, Bapak Direksi. Mungkin untuk selanjutnya, pertanyaan yang ketiga, mohon Pak Martinus untuk bisa meng-unmute dan menyampaikan pertanyaannya. Terima kasih.
Halo, terima kasih untuk kesempatannya. Maybe dari saya ada dua pertanyaan. Satu untuk masalah NIM. I think sebagian besar NIM-nya di second half, di first half ini driven by the cost of fund. Menurut dari manajemen BRI apakah ada chance buat room buat further cost of fund efficiency di situ especially buat Pegadaian dan PNM yang I think cost of fundnya udah turun tapi apakah ada chance buat lebih turun dari situ? Itu buat yang pertanyaan pertama. Untuk pertanyaan kedua saya mau nanya tentang KUR kuotanya tadi Pak Sunarso sudah bilang kan tahun depan mungkin KUR kuotanya bisa nambah. Dengan government harus melakukan banyak subsidi dan ada banyak macro vulnerability menurut Bapak apakah ini sustainable like buat KUR kuota ke depan untuk terus naik gitu Pak? Ya mungkin itu aja dari saya. Terima kasih.
Terima kasih Pak Martinus dari Goldman Sachs. Kami persilakan Bapak untuk responsnya. Terima kasih.
Baik, pertanyaan ada dua. Saya akan jawab dari pertanyaan nomor 2 dulu. Apakah kira-kira kuota KUR ini akan sustain akan terus naik? Ini pertanyaan dasarnya itu sebenarnya begini, kebijakan seperti ini akan terus diteruskan dilanjutkan atau akan ada waktunya dihentikan dan kalau dihentikan BRI bagaimana? Saya akan menjawab dari yang paling kritis dulu. Banyak yang mempertanyakan BRI itu sekarang portofolionya banyak diisi oleh KUR. Kalau seandainya tiba-tiba gitu KUR itu dihentikan nasibnya BRI di mana ya? Saya kira kami sudah sangat siap ya untuk kapan saja KUR itu dihentikan itu dulu yang paling penting. Kenapa? Karena KUR itu sebenarnya prinsipnya adalah satu adalah bahwa bunganya dimurahkan yang dibayar oleh nasabah karena disubsidi. Maka kalau dihentikan berarti bunganya nggak bisa murah lagi kan itu saja maksudnya. Yang kedua KUR itu kan 70% kalau terjadi kemacetan gitu dijamin oleh asuransi penjaminan kredit.
Hal yang seperti ini yang masalah dijamin ini bukan hanya KUR. Kita ngasih kredit yang komersial, bukan di luar KUR tetap kita asuransikan kan yang coveragenya juga 70% terhadap risiko gitu. Sehingga kalau KUR ini dihentikan gitu bagi BRI bagaimana? Yang berubah hanya bunganya saja bukan menjadi bunga yang bersubsidi tapi menjadi bunga komersial. Ingat kalau bunganya disubsidi itu plafon bunga paling tinggi itu ditetapkan oleh pemerintah dan itu yang saya katakan regulated price gitu. Tapi kalau misalnya bunganya dilepas komersial sudah barang tentu pemerintah tidak punya apa namanya alasan untuk mengatur suku bunga karena namanya suku bunga komersial terhadap pemerintah gitu. Maka kemudian kami akan menyikapi kalau KUR dihentikan kami akan kembalikan kepada scheme-scheme kredit mikro UMKM yang commercial based yang suku bunganya sudah barang tentu akan lebih tinggi dibandingkan suku bunga yang regulated price itu. Itu menurut saya opportunity.
Menurut saya opportunity kita untuk menaikkan yield gitu. Balik lagi seperti dulu seperti KUR generasi pertama tahun 2007 sampai 2014 KUR saja bunganya 22% pada saat itu karena pemerintah tidak memberikan subsidi bunga gitu. Jadi KURnya 22% dibayar juga oleh nasabahnya gitu. Waktu itu hanya dijamin. Sedangkan masalah penjaminan kalau dihentikan KUR atau kita kembalikan kepada komersial tetap kita harus membayar premi penjaminan kredit. Saya kira itu dulu yang paling penting tentang KUR. Baik sekarang tentang sustainabilitynya akan berlanjut apa tidak KUR ini. Saya harus mengungkapkan kalimat-kalimat yang sensitif tetapi harus saya sampaikan. Pertama yang harus kita antisipasi karena saya sebagai CEO bank yang fokusnya di situ maka saya harus punya prediksi-prediksi ini. Yang pertama adalah jika saja nanti ada rezim yang memang lebih inovatif dalam meng-entertain rakyatnya tidak melulu melalui subsidi maka kebijakan seperti ini pasti akan dihentikan. Itu alternatif pertama.
Alternatif kedua, kalau kita tidak mendapatkan rezim yang lebih inovatif dan kreatif dalam meng-entertain rakyatnya selain menggunakan subsidi, maka berbagai macam subsidi termasuk subsidi bunga akan dilanjutkan. Peluangnya menurut saya yang paling besar adalah yang nomor dua itu peluangnya. Maka kemudian kita tetap mengantisipasi bahwa apa namanya, kalau KUR dihentikan kita tetap akan sustain pertumbuhan kita dan juga apa namanya kinerja kita, performa kita. Tapi meskipun kecil peluangnya bahwa KUR itu dihentikan gitu. Tapi subsidi yang lain saya kira mungkin memang sudah waktunya untuk dihentikan. Tapi KUR juga sebenarnya kalau dikembalikan kembali lagi karena basisnya riset kita menunjukkan bahwa ternyata nasabah mikro itu nggak sensitif terhadap harga, nggak sensitif terhadap bunga. Mereka itu sensitif terhadap yang mereka lebih butuhkan adalah kemudahan layanan, kecepatan layanan, kecepatan dan kemudahan.
Bagi pemerintah prinsipnya sekarang saya juga terlibat dalam diskusi itu memang yang dibutuhkan nasabah mikro itu adalah kecepatan dan kemudahan. Akan lebih baik kalau pemerintah bisa memberikan tiga kecepatan, kemudahan, dan kemurahan gitu. Itulah yang diberikan oleh pemerintah sekarang kepada mereka. Itu untuk pertanyaan kedua ya. Saya sudah jawab seperti itu ya. Kemudian saya masih meyakini bahwa akan dilanjutkan gitu ya dengan dasar analisis yang seperti tadi saya lakukan. Tidak mudah mencari public manager yang kreatif inovatif dan kemudian berani tidak menggunakan instrumen subsidi gitu. Tidak mudah saya katakan itu. Kemudian berikutnya adalah tentang apa tadi ya? Apa? Oh cost of funds Pegadaian dan lain-lain. Bu Vivi deh silakan.
Baik terima kasih Pak Dirut. Pak Martinus mungkin saya mau sampaikan sedikit untuk NIM seperti yang tadi kita sampaikan sebenarnya kali ini drivernya secara konsolidasi gitu ya itu tidak hanya dari penurunan cost of fund. Kalau kita lihat blended gitu ya yield itu tuh naik juga karena BRI fokusnya memang yang kita lihat strong pertumbuhannya itu di segmen mikro dan ultra mikro sehingga itu yang mem-push gitu ya yield itu naik dari sekitar kisaran 12.45 ke 12.8. Nah selanjutnya kalau kita bicara semester kedua apakah ada room gitu ya untuk COF akan terus membaik dalam artian berarti turun ataukah seperti apa? Kalau kita lihat sebenarnya untuk cost of fund Pegadaian dan PNM sendiri trennya secara konsisten itu turun dari sejak pasca akuisisi di September 2021 cost of fund Pegadaian itu dari 6.28 itu menjadi sekitar 4.6%.
PNM itu dari sekitar 9 atau 8.8 gitu ya itu sudah turun ke 8% gitu. Tren ini terutama sebenarnya untuk PNM itu kita masih melihat ada potensi dia menurunkan cost of fund-nya. Karena saat ini dia masih proses bernegosiasi dengan bank-bank yang memberikan kredit yang lain karena kebetulan kontraknya itu tidak mudah untuk di-renegotiate. Untuk PNM masih ada kemungkinan untuk turun gitu. Hanya kalau kita melihat secara konsolidasi kontribusi dari induk atau BRI itu kurang lebih 80%. Kontribusi dari PNM itu kurang lebih 10% dan Pegadaian itu sekitar 6%. Jadi meskipun ada penghematan dari Pegadaian dan PNM itu impact dari BRI-nya itu cukup besar. BRI-nya seperti apa nanti ke depan cost of fund-nya?
Cost of fund-nya tadi kita lihat sudah turun ke 1.7 dengan mempertimbangkan potensi kenaikan BI Rate gitu ya terutama cost untuk non dana pihak ketiga yang juga sudah trennya mulai naik gitu ya. Sampai akhir tahun ini kita coba manage gitu ya. Tetapi kita lihat kemungkinan kita estimasikan cost of fund kita itu akan ada di sekitar 2% untuk level bank-nya. Kurang lebih seperti itu. Makasih.
Saya tambahkan ya karena tadi saya sudah memprediksi bahwa KUR akan berlanjut. Ternyata saya barusan dapat informasi ternyata malah sudah ditetapkan ya. Target KUR pemerintah 2023 IDR 470 triliun. Ternyata target KUR untuk 2024 sudah ditetapkan IDR 585 triliun. Benar hipotesa saya tadi bahwa agak susah untuk mencari alternatif yang pertama di mana kita apa namanya bisa meng-entertain rakyat dengan menggunakan instrumen di luar subsidi. Ternyata lebih gampang ya menggunakan subsidi gitu. Kira-kira seperti itu. Ternyata sudah ditentukan. Saya ulangi lagi 2023 targetnya IDR 470 triliun, 2024 targetnya IDR 585 triliun. Demikian.
Ya, baik. Terima kasih, Pak Sunarso dan juga Ibu Viviana. Izin kami tutup untuk acara kegiatan analyst meeting ini. Mohon maaf, ini sudah 20 menit lewat dari jam 12. Mohon maaf, Pak Surya, mungkin nanti kita bisa langsung kontak untuk diskusi untuk concern dari Pak Surya. Oke, baik. Terima kasih untuk para peserta dari analis ataupun dari investor. Sekali lagi saya sampaikan terima kasih untuk kehadiran dan perhatiannya. Izin saya tutup kegiatan analyst meeting dan pemaparan kinerja keuangan Bank BRI semester satu tahun 2022. Terima kasih. Salam sehat untuk kita semua. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.