PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (IDX:BBRI)
3,070.00
0.00 (0.00%)
Apr 29, 2026, 4:10 PM WIB
← View all transcripts
Earnings Call: Q1 2022
Apr 25, 2022
Hi, thanks for allowing me the opportunity. Two or three questions if I may and I'm sorry if it has already been asked. First, if you think about the first quarter run rate on both loan growth and margins, how should we see the sustainability of both of these numbers, especially given cost of fund probably has bottomed right now. Thanks. I have a couple more questions after this.
Oke. Jadi kita mungkin akan langsung mulai saja ya Bapak untuk pertanyaan tadi dari Bu Selvi, Pak Jovan dan juga tadi Harsh untuk satu pertanyaan dulu. Oke, silakan Pak Narso. Terima kasih.
Baik, mungkin, tentang pertanyaan Selvi, asset quality, terus kemudian juga stress test, terkait sama inflation sudah dibuat atau belum, kalau sudah dibuat seperti apa, Pak Agus Sudiarto, silakan Pak Agus.
Baik, terima kasih.
Nanti tentang impact yang signifikan dari Ultra Mikro itu kepada finansial itu ada di ya, bagian mananya Bu Vivi ya. Itu. Kemudian yang terakhir ya, Jovan tentang masalah itu kira-kira SWF itu megang saham kita mau diapakan, omong-omongannya seperti apa sekarang ini gitu. Saya pikir yang diajak berunding kan Bu Vivi ya gitu ya. Meskipun saya tahu, mending Bu Vivi aja yang jawab gitu, diapakan gitu. Kemudian pertanyaan terakhir dari Harsh tadi tentang loan growth dan margin, Bu Vivi juga. Silakan, Pak Agus dulu.
Baik, terima kasih Pak Dirut. Bu Selvi terima kasih pertanyaannya terkait dengan NPL tadi inflow sama outflow-nya kira-kira bagaimana ya. Kalau secara individual customer tadi di pemaparan saya sudah saya sampaikan beberapa debitur di korporasi maupun menengah yang mengalami perbaikan atau bahkan juga ada pemburukan juga ya. Secara umum, saat ini penurunan dari outstanding LAR kita setiap bulan itu sekitar IDR 3 triliun-IDR 4 triliun. Yang masuk, yang baru terkategori sebagai debitur loan at risk semakin berkurang karena memang 2 tahun kemarin kan kita memang sudah cukup boleh dibilang hampir seluruhnya debitur-debitur kita yang memang terpengaruh COVID sudah kita lakukan restrukturisasi. Saat ini mungkin masih ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Sementara debitur-debitur yang sudah kita restrukturisasi dan terkategori sebagai loan at risk, sebagian besar juga mampu melakukan pembayarannya dengan baik. Memang ada kenaikan, NPL dari portofolio loan at risk itu yang karena COVID.
Saat ini posisinya di sekitar 6%. Di akhir tahun lalu, di 2021, rasionya sekitar 5%. Ada kenaikan karena di samping memang debiturnya juga turun menjadi NPL, tetapi juga karena kan portofolio yang lancarnya semakin berkurang. Karena kan jumlahnya juga terus berkurang sehingga secara rasio persentase dia akan kenaikan. Yang kedua, apakah kita di BRI sudah melakukan stress test analysis? Ini sudah kita lakukan, termasuk dengan skenario apabila inflasi naik. Jadi OJK secara reguler juga meminta kita melakukan stress test sesuai yang skenario-skenario yang disampaikan oleh OJK. Dan kita lakukan pada skenario severe apabila tingkat inflasinya naik 5%, NPL kita juga akan naik kurang lebih di kisaran 5% juga gitu.
Ini terus kita kawal sehingga kita ikut senang manakala pemerintah dan Bank Indonesia akan bertekad menjaga tingkat inflasi ke tingkat yang sesuai target awal, yaitu di kisaran 3% ±1%. Karena ini akan berdampak juga kepada portofolio, kualitas portofolio yang ada di kami. Demikian, Bu Selvi.
Oke, Pak Agus.
Baik, terima kasih Bu Selvi. Untuk pertanyaan yang kedua ya di atas sinergi di holding UMi ini di impact di bagian keuangan mana yang mungkin akan kelihatan kalau tahun ini gitu. Yang pertama cost of fund, Bu Selvi. Cost of fund baik di PNM maupun Pegadaian kita estimasikan itu yang menjadi low hanging fruit dan itu memang kalau kita lihat sampai Maret pergerakannya, in line gitu. Memang tidak harus semuanya direct funding dari BRI kepada PNM maupun Pegadaian, tetapi PNM dan Pegadaian ini juga kita empower, kita encourage untuk mencari sumber pendanaan lain sepanjang lebih rendah dari apa yang bisa dikasih BRI, sehingga BRI akan tetap keep margin-nya. Nah, kemudian yang kedua dengan adanya co-locations dan juga SenyuM Mobile, yang saat ini sudah digunakan oleh, tenaga pemasar baik PNM maupun Pegadaian maupun BRI.
Yang kedua, ini yang sebenarnya menjadi salah satu sumber untuk loan growth di 2022. Selain memang dari sisi bank only nanti memang kita ada KUR ya sekitar IDR 260 triliun. Sementara kalau kita bicara mengenai efisiensi untuk misalnya adalah cost efficiency ratio ataupun BOPO, kemungkinan besar akhir tahun ini belum fully capture, Bu Selvi, gitu ya. Kemungkinan besar mungkin kita baru akan lihat tahun 2023. Untuk credit cost mungkin yang PNM belum untuk tahun ini Bu Selvi karena kita baru saja menyelesaikan loan review di PNM dan kemungkinan akan ada tambahan provision untuk PNM seperti yang pernah kita diskusikan di kemarin-kemarin yang akan mungkin kita bagi dalam tiga tahun.
Kurang lebih, itu impact finansialnya ada di mana yang bisa kita lihat dari adanya holding Ultra Mikro di tahun 2022 ini. Kalau tadi pertanyaan mengenai saham BRI yang dimiliki oleh INA. Sekitar dua bulan yang lalu memang kami sudah berbicara dengan manajemen INA dan ada kesepakatan yang kami formalkan secara tertulis dengan INA pada waktu itu. Beberapa hal yang disampaikan dan disepakati adalah satu, dari sisi budgeting atau rencana kerja INA sendiri 2022 ini belum ada rencana untuk monetize saham BRI karena INA masih memiliki funding yang cukup dan juga atas project-project yang ada di INA. Terkait dengan monetizing saham BRI ini ada beberapa kriteria sebenarnya yang sepertinya akan dipertimbangkan oleh temen-temen INA. Yang pertama tentunya adalah kebutuhan fundingnya sendiri.
[Foreign language] Yang kedua ini adalah fundamental perusahaan, dalam hal ini adalah kinerja BRI termasuk kemampuan BRI dalam menggenerate dividen karena tahun seperti tahun ini aja mereka mendapatkan kurang lebih sekitar IDR 900 million dari dividen BRI. Itu cukup signifikan. Yang terakhir adalah kondisi pasar modal. Memang apabila nanti mereka memiliki rencana untuk monetisasi saham BRI ini, kita sepakat bahwa at least 3 bulan sebelumnya itu kita sudah berkoordinasi antara INA dengan BRI. Kurang lebih begitu, Pak Joven. [/Foreign language] Yang terakhir, Harsh. Hi, Harsh. How are you? Harsh, regarding your questions about the loan growth and also the net interest margin itself, how sustainable that we expect these two factors in 2022. For loan growth, I think based on our guidance 9%-11% is something that we think it's still achievable from our side.
Like Pak Sunarso mentioned earlier, we still have sufficient liquidity. We still have a very strong capital adequacy ratio. We still have, you know, room for growth, especially in micro and ultra micro. Micro, yes, Kredit Usaha Rakyat or KUR still become the driver. The ultra micro loan growth with the co-location that I mentioned previously will also give a positive impact to the loan growth. I think that's some factors that make us actually is quite optimistic with our guidance 9%-11%. About the interest, I mean the net interest margin, the NIM, I think the current NIM 7.7% is within our guidance 7.6%-7.8%. This is because of the contribution from PNM and Pegadaian that both entities actually now the net interest margin roughly is around 20%.
I think going forward from the perspective of BRI as a parent, we will try to manage the yield by, you know, still focusing on a high yield segment. We will try to manage the cost of fund, so the maximum probably like 2.1% by the end of this year. For Pegadaian and PNM, the cost of fund actually that will drive their cost of fund decline this year. I think looking at those indicators, we believe that the guidance 7.6%-7.8% in 2022 will be something that reasonable to achieve from our perspective. Thank you, Harsh.
Thank you, Pak Naso and Bu Vivi dan Pak Agus. Jadi mungkin ini sesi terakhir Bapak. Ini sudah 20 menit melewati jam empat. Bapak Ibu analis, mari terima kasih sekali lagi untuk perhatian dan juga partisipasi dalam kegiatan analyst meeting. Izin untuk kegiatan ini kami tutup. Mohon maaf ini masih ada Bu Yuli dari CGS-CIMB yang mengajukan pertanyaan, tapi nanti mungkin bisa langsung, Mbak Yuli langsung ke IR tim. Izin saya tutup kegiatan analyst meeting dan pemaparan kinerja keuangan Bank BRI triwulan satu tahun 2022. Terima kasih dan salam sehat selalu untuk kita semua. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.