PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (IDX:BBRI)
Indonesia flag Indonesia · Delayed Price · Currency is IDR
3,070.00
0.00 (0.00%)
Apr 29, 2026, 4:10 PM WIB
← View all transcripts

Earnings Call: Q4 2021

Feb 3, 2022

Izin saya mulai Bapak Ibu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera. Yang kami hormati Bapak Direktur Utama BRI, Bapak Sunarso, Bapak Ibu Direksi dan SEVP BRI, rekan-rekan analis, para kepala divisi BRI serta Bapak Ibu undangan yang telah bergabung dalam acara Analyst Meeting Pemaparan Kinerja Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk tahun 2021. Dapat kami sampaikan bahwa kegiatan pemaparan kinerja keuangan ini dilakukan melalui Zoom Meeting dan akan dibawakan dalam bahasa Indonesia. Kegiatan akan diawali dengan pemaparan kinerja dari Board of Directors BRI yang kemudian akan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Apabila pada saat sesi tanya jawab rekan-rekan analis ada yang akan menyampaikan pertanyaan mohon untuk dapat menggunakan feature Raise Hand yang selanjutnya kami akan memberi kesempatan untuk bertanya secara langsung kepada Direksi BRI. Dapat kami sampaikan bahwa materi presentasi untuk Analyst Meeting ini telah dapat diunduh di website BRI www.ir-bri.com. Selama kegiatan Analyst Meeting ini kami mohon agar Bapak Ibu dapat selalu dalam mode suara mute dengan mode video on sehingga dapat mendukung kelancaran dan ketertiban acara ini. Untuk memulai pemaparan kinerja kami persilakan pada Bapak Direktur Utama Bank BRI, Bapak Sunarso, waktu dan tempat kami persilakan. Terima kasih Moderator. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan. Pertama kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan analis telah hadir dalam acara Analyst Meeting dan pemaparan Full Year Result BRI tahun 2021. Untuk itu izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Sunarso, Direktur Utama dan saya didampingi oleh Board of Management yang terdiri dari Direksi dan juga SEVP. Pertama di sebelah kiri saya ada Ibu Viviana selaku CFO dan kemudian ada Pak Amam Sukrianto, Direktur yang membidangi Small and Medium Business dan kemudian ada Bu Handayani, Direktur yang membidangi Consumer Business. Saya ada didampingi Pak Agus Noorsanto, Direktur Institutional Banking dan kemudian Pak Agus Sudiarto, Direktur Risk Management, Pak Agus Winardono, Direktur Human Capital dan kemudian Pak Achmad Solichin Lutfiyanto, Direktur Compliance, kemudian ada Pak Indra Utoyo, Direktur Digital dan Technology Information dan kemudian ada Bu Ani Hidayati, SEVP Internal Audit, Pak Bambang Kris Minarno, SEVP yang membidangi Corporate Banking, kemudian ada Pak Hendro, SEVP yang membidangi Program dan Logistik. Saya kira itu ya sudah kita perkenalkan semua. Baik kita mulai. Saya untuk memberikan update tentang kondisi yang terkait dengan situasi pandemi maupun makroekonomi dan industri perbankan. Bapak Ibu dan rekan-rekan analis seperti kita ketahui bahwa Indonesia sudah dua kali melalui wave COVID-19 ini dan masyarakat sudah lebih adaptif dalam menghadapi pandemi. Demikian juga upaya pemerintah yang selalu proaktif dalam menangani penyebaran COVID menunjukkan hasil yang positif yang ditunjukkan dengan bahwa kasus COVID yang secara perlahan menurun ya di second wave sampai dengan akhir tahun 2021. Meskipun pada awal 2022 ini tren kembali meningkat terutama dengan datangnya varian baru Omicron namun nampaknya situasi mudah-mudahan bisa tetap terkendali. Kemudian pemulihan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan penanganan COVID-19 ini itu nampak pada pertumbuhan GDP pada quarter 3 2021 yang meningkat 3.51% terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga yang menunjukkan bahwa masyarakat semakin memiliki optimisme dan dibuktikan dengan melakukan spending ya. Aktivitas bisnis dan optimisme pelaku UMKM juga terlihat dari BRI MSME Index menunjukkan tren pemulihan dengan Business Activity Index di quarter empat ini 104.1 itu artinya optimis dan kemudian lebih baik dibandingkan 95.3 pada quarter tiga waktu itu dan kemudian Business Sentiment Index itu mencapai 131 itu artinya juga lebih baik dibandingkan sebelumnya di quarter tiga itu 120.7. Kemudian demikian juga bahwa kita sudah ukur di quarter empat ini bagaimana optimisme pelaku UMKM menghadapi satu quarter pertama di 2022 dan itu indeksnya juga tetap tinggi di atas 100 demikian juga indeks kepercayaan pelaku UMKM kepada pemerintah terutama kemampuan pemerintah untuk mengelola perekonomian di tengah berbagai tantangan itu juga menunjukkan bahwa pelaku UMKM masih percaya kepada pemerintah untuk mengelola ekonomi secara baik. Selain itu, pemulihan ekonomi juga terlihat pada berbagai leading indicator seperti Purchasing Managers' Index berada di level 53.5 yang merupakan zona ekspansif dan Consumer Confidence Index itu juga di level 118.5 atau berada di territory optimis ya. Demikian juga kalau kita bicara tentang foreign exchange rate ya, bahwa kurs US Dollar terhadap Rupiah bergerak stabil di kisaran 14,200 sampai 14,400 didukung oleh peningkatan harga komoditas yang mendorong akselerasi ekspor dan juga kenaikan cadangan devisa yang mencapai $145.9 billion. Kemudian interest rate environment dalam kondisi suportif dimana yield 10 tahun bergerak di range 6.3%-6.5% dengan kebijakan BI yang di tengah kewaspadaan terhadap pengaruh dari eksternal namun tetap suportif terhadap pertumbuhan ekonomi. Industri perbankan juga terus menunjukkan tren pemulihan, kredit perbankan tumbuh positif 5.2% dengan rasio-rasio yang secara umum terjaga dengan baik. Ini menunjukkan bahwa industri perbankan menerapkan prinsip-prinsip prudensial dan tumbuh secara terukur, selektif dan juga penerapan risk management yang lebih sigap dan lebih, apa namanya, siap menghadapi berbagai kemungkinan. Selanjutnya izinkan saya untuk menyampaikan highlight kinerja BRI ya dan terutama nanti kita bandingkan dengan guidance yang kita berikan ya. Jadi BRI berhasil mencatat laba bersih bank only sebesar IDR 32.2 triliun dan itu mengalami kenaikan 76% ya, pertumbuhannya 76% year-on-year dan kembali menyandang predikat sebagai bank dengan laba terbesar di industri perbankan Indonesia. Secara konsolidasi laba BRI mencapai IDR 30.8 triliun atau tumbuh 65% year-on-year. 10% di atas konsensus yang kita berikan karena konsensus kita kan IDR 28 triliun ya yang kita berikan ya guidance kita ya dan kita bisa mencapai laba konsolidasi IDR 30.8 triliun dan kenapa konsolidasinya lebih rendah dibandingkan dengan bank only karena kita memang masih melakukan konsolidasi di beberapa perusahaan anak ya terutama di eks BRI Agro yang sekarang kita ubah menjadi Bank Raya kita harus front loading untuk membukukan kerugian dan selanjutnya kita tata kembali untuk menjadi bisnis yang sehat dan sustainable ya. BRI juga mampu mencatatkan kinerja di atas guidance yang telah kami sampaikan kredit tumbuh 7.2% di atas guidance 6%-7% didukung pertumbuhan kredit mikro yang tumbuh double digit 13% ya. Loan to deposit ratio berada di level 83.67%. Masih terdapat ruang untuk mengoptimalkan LDR. Ini terutama karena kita sudah berusaha untuk menekan, apa namanya, membuang dana-dana mahal. Kemudian tetapi memang loan demand-nya belum sekuat sebelum pandemi. Sehingga kita memiliki LDR yang masih 83.67%. Artinya memang mesti didorong untuk lebih optimal ke level kepala 90, sebutlah 90 atau 91% seperti itu. NIM mencapai 6.89% lebih tinggi dari guidance yang kita berikan yaitu 6.7% dan pertumbuhan NIM yang baik ini didukung oleh pertumbuhan high yield loan dan efisiensi cost of fund dimana cost of fund BRI mencapai 2.05% dan merupakan cost of fund terendah sepanjang masa bagi BRI. Fee-based income tumbuh 9% lebih baik dibanding guidance yang kita berikan waktu itu 8% ya. OPEX tumbuh 18.1% lebih tinggi dibandingkan guidance yang 8%-10%. Kenapa demikian? Karena BRI membuku biaya sebesar IDR 54.8 triliun, namun perlu kami detailkan bahwa ini terdiri dari pembukuan biaya yang bersifat business as usual saja. Sesungguhnya OpEx kita hanya IDR 46.8 triliun dan kemudian ada yang kita sebut non business as usual atau one-off sebesar IDR 8.0 triliun. Nanti kita bisa jelaskan. Penjelasannya adalah dari biaya-biaya yang IDR 8 triliun itu yang kita sebut one-off itu ya, itu terdiri atas ada IDR 4.5 triliun di antaranya yang harus kita keluarkan ya, harus kita biayakan gitu yang kami siapkan untuk manfaat jangka panjang. Kita bilang biaya masa depan sudah kita akui sekarang, sudah kita biayakan sekarang. Di antaranya adalah dotasi kepada dana pensiun untuk meng-cover kenaikan manfaat pensiun dan juga cadangan pegawai kontrak antara waktu dari penerapan Undang-Undang Cipta Kerja serta cadangan kenaikan komposisi gaji pokok dan iuran hari tua untuk memenuhi PP 36 tahun 2021 tentang pengupahan. Itu kita biayakan di depan IDR 4.5 triliun. Kemudian ada IDR 2.7 triliun merupakan biaya one off juga yang terjadi di tahun ini. Di antaranya adalah biaya untuk program kepemilikan saham karyawan, kemudian biaya pesangon karena penerapan Qanun di Aceh dimana kita harus, apa namanya, kita harus mengkonversi satu wilayah kita, satu regional office menjadi syariah yang kemudian kita gabungkan menjadi Bank Syariah Indonesia dan itu kita harus memberikan, mengeluarkan biaya pesangon terhadap pegawai-pegawai yang di lay-off. Kemudian ada IDR 0.8 triliun merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan kewajiban dari periode sebelumnya yang saya sebut biaya masa lalu. Di antaranya adalah cadangan subrogasi dan others. Cadangan subrogasi itu apa? Ketika KUR macet maka kita klaim kepada asuransi penjamin kredit dan dibayarlah klaimnya itu 70% maka kita tetap punya tagihan kepada nasabahnya 100%. Apabila tertagih 100% yang hak kita itu hanya 70% yang 70% adalah merupakan tagihan subrogasi yang harus kita alihkan, kita harus teruskan transfer ke lembaga penjamin gitu. Namun demikian, di situ masih administrasinya ada masalah segala macam maka kita cadangkan saja di situ. Kita cadangkan saja supaya nanti kalau terjadi masalah kita sudah enggak mengganggu kinerja kita ke depan. NPL mampu dijaga di 3.08% lebih rendah dibandingkan guidance yang kita berikan 3.3%-3.5%. Demikian juga credit cost 3.42% lebih rendah dibanding guidance 3.5%-3.7%. Selanjutnya izinkan saya untuk menyampaikan tentang value creation through corporate action ya. Bahwa selain memberikan kinerja pertumbuhan organik yang kuat selama 2021 BRI juga berupaya memberikan value kepada para stakeholder, pada shareholder melalui pertumbuhan anorganik dalam beberapa aksi korporasi. Pada bulan Februari 2021 dilakukan konsolidasi Bank Syariah Indonesia untuk menangkap potensi besar dari bisnis perbankan syariah maupun ekonomi syariah. Demikian juga kemudian pada bulan Maret 2021 dilakukan partnership antara BRI Life dengan FWD untuk mengoptimalkan keunggulan masing-masing entitas dalam mengakselerasi pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Puncaknya adalah pada bulan September 2021 BRI telah secara resmi membentuk Holding UMi sebuah integrasi bisnis ultra-micro antara BRI, Pegadaian, dan PNM yang dilakukan melalui mekanisme rights issue dengan pencapaian pemesanan saham baru oleh pemegang saham publik sebesar 101.53% atau oversubscribed. Hal ini menjadi bagian untuk strategi melakukan diversifikasi income, diversifikasi risiko, spreading risk, dan juga penguatan customer base. Sekali lagi bahwa konsolidasi perusahaan anak baik melalui yang sudah existing berada di dalam grup BRI maupun yang baru kita ambil bergabung dengan BRI seperti Pegadaian dan PNM itu kita maksudkan untuk tiga hal. Pertama adalah untuk mendiversifikasi income. Yang kedua adalah untuk melakukan spreading risk ya, pembagian risiko supaya tidak menumpuk di satu aspek tertentu dan juga yang terakhir adalah memperkuat customer base BRI untuk bekal pertumbuhan secara berkelanjutan di masa datang. Saya mesti mention secara khusus tentang penyebaran Omicron. Bahwa ke depan masih terdapat tantangan di antaranya penyebaran COVID-19 varian Omicron yang masih saat ini penyebarannya menunjukkan kenaikan meskipun masih relatif terkendali dibandingkan puncak second wave di Juli 2021 yang lalu. Berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya di mana UMKM selalu menunjukkan resiliensinya. Namun demikian, pembatasan mobilitas selama pandemi COVID-19 pada awalnya sangat memukul sektor UMKM. Ini perlu diketahui bahwa berbagai krisis yang dilalui oleh Indonesia apakah krisis moneter yang berujung pada krisis multidimensional tahun 1997, 1998 itu UMKM relatif tidak terdampak secara parah seperti segmen korporasi. Demikian juga kemudian tahun 2008, tahun 2013 UMKM relatif bisa selamat. Tetapi krisis yang disebabkan oleh pandemi ini telah memukul secara parah terhadap UMKM. Oleh karena itu BRI harus dikendalikan dengan hati-hati prudent dan tetap mampu mencari peluang-peluang untuk pertumbuhan yang aman. BRI secara proaktif melakukan restrukturisasi kredit untuk menyelamatkan nasabah terutama pelaku UMKM yang telah menjadi sumber pertumbuhan bisnis BRI selama ini. Dengan adaptasi terhadap pandemi yang lebih baik mobilitas dan aktivitas masyarakat kembali meningkat yang terlihat dari peningkatan Google Mobility Index untuk recreation yang telah menunjukkan angka 11.7 dibandingkan -20 pada saat second wave pandemi sehingga membantu pemulihan bisnis dan ekonomi. Resiliensi dan adaptasi BRI ditunjukkan dalam second wave pandemi COVID-19 di kuarter tiga 2021 di mana disbursement kredit mampu dijaga sekitar IDR 24 triliun per bulan dengan NIM yang stabil di level 6.8%. Demikian juga restrukturisasi kredit terus menurun sehingga diikuti oleh tren LAR yang terus menurun mencapai 24.1% dengan LAR coverage yang terus meningkat mencapai 35.7% di Desember 2021. Sekarang LAR-nya, loan at risk-nya menurun dan kemudian coverage terhadap LAR terus meningkat sampai level 35.7%. Untuk ini saya ingin memberikan catatan khusus tentang LAR dan LAR coverage itu. Bapak, Ibu, rekan-rekan analis sekalian kalau sekarang kita punya NPL sebutlah IDR 30 triliun dan kita punya cadangan IDR 81 triliun. Maka kalau NPL sudah memang kita ambil saja NPL kita write off maka berkuranglah IDR 30 triliun cadangan kita. Kita masih punya IDR 51 triliun. IDR 51 triliun untuk mengcover loan at risk kita sekitar IDR 200 triliun katakanlah. IDR 200 triliun. Sekarang kita lihat kira-kira 35% ini cukup aman enggak? Maka saya mau cerita bahwa ternyata kita ikuti dari pandemi ini selama pandemi ini loan at risk yang benar-benar jatuh menjadi NPL itu ternyata memang naik. Kenaikannya rasanya sih akan berhenti di kisaran 5% paling tinggi. Waktu awal pandemi loan at risk itu jatuh ke jadi NPL 2%, 2.5%, 3.5%, 4% dan sekarang ada di level 5%. Artinya kalau loan at risk itu jatuh menjadi NPL sampai 10% saja kita sudah cukup dan lebih dari cukup cadangan untuk mengcover jatuhnya LAR itu menjadi NPL. Kalau terjadi significant deterioration maka kemudian cadangan kita sangat memadai untuk itu. Baik, melihat kinerja tersebut kami yakin mampu tetap tumbuh dan resilient di tengah risiko penyebaran Omicron. Sekarang mungkin ada concern lagi yang ingin saya sampaikan selain bagaimana apa namanya kita merespon challenge akibat Omicron. Sekarang ada challenge yang berikutnya yang mungkin sangat dikhawatirkan. Kami sendiri sangat yakin bahwa kami bisa melakukan, memberikan strategic response yang baik. Apa itu? Itu adalah perubahan skema KUR. Selain tantangan dari pandemi COVID-19 perubahan skema KUR yang terjadi di awal tahun 2022 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi BRI. BRI merupakan pemain utama penyalur KUR dengan market share sekitar 70%. Pada kondisi pre pandemi baik Kupedes maupun KUR mampu tumbuh double digit. Saya sampaikan ini untuk menunjukkan bahwa kanibal atau tidak ini sebenarnya KUR dengan Kupedes. Sebelum pandemi sampai ya sebelum pandemi baik KUR yang sangat regulated price karena disubsidi dengan Kupedes yang commercial base rate nya, ratingnya apa suku bunganya itu ternyata sama-sama tumbuh double digit. Artinya saya bisa simpulkan bahwa tidak terjadi kanibalitas di situ. Kemudian kondisi pandemi yang disertai dengan pembatasan sosial aktivitas masyarakat telah menyebabkan turunnya kemampuan nasabah sehingga menurunkan permintaan terhadap Kupedes. Bukan hanya permintaan terhadap Kupedes, loan demand kita di semua segmen memang menurun. Itulah yang saya katakan maka perlu pemerintah turun tangan untuk mendorong kredit. Kemudian kredit didorong, loan demand didorong dengan mendorong permintaan dan kemudian maka disalurkanlah berbagai stimulus untuk mendorong permintaan dan kemudian mendorong permintaan kredit pula. Di situ kelihatan bahwa Kupedes yang pasti jauh dari stimulus itu baru di situ Kupedes mengalami pertumbuhan yang menurun. Artinya bahwa kalau kondisinya normal baik KUR maupun Kupedes sebenarnya bisa jalan bareng-bareng tidak saling memakan. Adaptasi terhadap kondisi pandemi BRI menerapkan strategi bisnis follow stimulus sehingga dapat tetap tumbuh secara prudent dengan pertumbuhan double digit di mikro yang didukung oleh pertumbuhan KUR. Sejalan dengan pemulihan ekonomi dan kemampuan finansial nasabah kami meyakini bahwa permintaan kredit akan tumbuh sehingga baik KUR maupun Kupedes dapat tumbuh bersama-sama. Sepanjang 2021 tren penyaluran Kupedes juga terus meningkat sejak quarter 1 2021. Kalau kita lihat di situ ternyata tren pencairan disbursement Kupedes sepanjang tahun 2021 itu juga mengalami peningkatan. Apabila program KUR dihentikan bagaimana kira-kira kita meresponnya? Maka kami yakin bahwa produk BRI terutama Kupedes akan masih mampu melayani pasar yang ada. Bahkan adalah kesempatan kita untuk melakukan repricing di kredit mikro kita menjadi commercial base karena mungkin kalau KUR dihentikan kan artinya tidak ada subsidi. Kalau tidak ada subsidi kan kita harus kembalikan kepada commercial price, commercial rate seperti itu. Namun yang tidak kami akan tinggalkan adalah bahwa kredit-kredit itu tetap harus diasuransikan. Maka kemudian kalau subsidi tidak ada maka kami hanya berpikir bahwa kredit-kredit itu tetap harus di cover oleh asuransi penjamin kredit. Apakah preminya dibayarin negara ataukah kita bayar sendiri include di dalam price saya pikir itu tetap wajib kita lakukan. Itu kira-kira antisipasi kita seandainya KUR dihentikan. Timbul pertanyaan kalau KUR dihentikan, subsidi dihentikan, bunganya kan kembali kepada bunga komersial, kira-kira nasabahnya sanggup apa tidak? Kita juga tidak begitu saja memberikan narasi, kita juga mendasarkan pada survei dan riset. Riset kita menunjukkan, selain itu saat ini kami melihat bahwa pricing bukan faktor utama yang mempengaruhi loan demand pada segmen mikro. Saya punya data KUR generasi pertama itu adalah 2007 sampai 2014. Waktu itu bunganya tidak disubsidi. Subsidi pemerintah hanya berupa Pembayaran IJP Imbal Jasa Penjaminan atau Premi Penjaminan yang jumlahnya besarnya 2.75%. Waktu itu saya belum di BRI, tapi saya juga sudah nangani KUR. KUR generasi pertama itu tidak ada subsidi dan bunganya ditetapkan 22% pada saat itu. Pada saat KUR bunganya 22%, Bapak Ibu sekalian, selalu saja pertumbuhan kredit itu double digit bahkan di atas 20%. Pernah kredit kita juga tumbuh 22% pada saat KUR bunganya 22%. Artinya bahwa begitu jelas bahwa pricing bukanlah faktor utama yang menentukan loan demand ataupun loan growth. Kemudian ternyata apa kalau gitu yang menentukan? Ada risetnya. Ternyata faktor kedekatan, proximity, trust, dan kemudahan masih mendominasi pertimbangan nasabah untuk memperoleh kredit. Itulah yang dimiliki oleh BRI. Proximity, kedekatan karena kita meskipun kita sekarang bergerak secara digital, tetapi kedekatan dengan nasabah tetap kita jaga karena kita hadir di komunitas-komunitas di level bawah. Trust serta kemudahan itulah yang sebenarnya menjadi penentu pertumbuhan kredit. Kebijakan normalisasi likuiditas ini perlu saya sampaikan. Seiring dengan pemulihan ekonomi yang terjadi di dunia, beberapa bank sentral dunia mulai melakukan langkah tightening monetary policy. Di dalam rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan Januari 2022, BI melakukan normalisasi kebijakan likuiditas dengan tetap memastikan kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit melalui giro wajib minimum secara bertahap yang dimulai di Maret 2022. Kemudian likuiditas BRI dalam kondisi yang sangat memadai yang akan dapat mendukung kebutuhan ekspansi kredit BRI ke depan. Itu bisa dilihat komposisi interest bearing liabilities to total liabilities yang semakin menurun dari sebelumnya 84% sekarang sudah menjadi 78%. Menunjukkan peningkatan sumber ekspansi BRI berasal dari kapital ya, rights issue, dan kemudian LCR dan juga Net Stable Fund Ratio terjaga stabil di atas minimum requirement 100%. Kemudian LDR dan rasio intermediasi berada pada level 83.67% dan 81.06%. Masih terdapat ruang untuk optimalisasi loan to deposit ratio maupun rasio intermediasi. Seperti yang saya katakan tadi, kalau masih berada di level 80 sebenarnya LDR itu harus kita dorong ke level 90-an gitu. Untuk aman ya mentok 92 lah paling aman gitu. Kemudian komposisi non loan ya, earning asset to earning asset yang terus meningkat yang dengan mudah dimonetisasi dan menjadi aset pinjaman apabila demand kredit nanti meningkat gitu ya. Kemudian juga kondisi CAR yang sangat memadai pada 16.74% jauh di atas minimum requirement yang ditetapkan oleh regulator, yaitu 6%. Dengan kondisi likuiditas yang memadai, BRI optimis dapat mengelola risiko dari kebijakan normalisasi likuiditas yang dilakukan oleh Bank Sentral dengan baik dan melakukan ekspansi sesuai dengan rencana bisnis yang sudah kita canangkan. Selanjutnya adalah strategi yang kita lakukan ke depan. Ke depan kami sangat yakin bahwa BRI akan tetap tumbuh dan dapat memberikan nilai untuk seluruh shareholder dengan menawarkan lima hal yang dapat menjadi dasar atau justifikasi untuk berinvestasi di BRI. Sound business strategy focus on flagship segmen, yaitu terutama mikro dan ultra mikro. Lebih umumnya adalah termasuk SMI ya, di mana BRI telah menyempurnakan strategi transformasi yang kita beri nama BRIvolution 2.0, di mana kami meneguhkan komitmen tetap tumbuh pada segmen mikro dan ultra mikro untuk mencapai The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia and Champion of Financial Inclusion. Champion of Financial Inclusion adalah sesuatu yang mutlak, yang wajib apabila kita mau fokus kembali ke UMKM, maka dua hal ini harus kita kerjakan. Jadi create value melalui fokus kepada UMKM. Tapi syaratnya kita harus menjadi champion di financial inclusion. Hybrid bank business model di mana BRI memiliki model bisnis yang customer centric, mengakomodir karakteristik kunci dari segmen mikro yang menjadi mayoritas nasabahnya dengan memadukan keunggulan BRI dari sisi physical presence dan digital capabilities yang terus dibangun. Itu yang ingin saya katakan, bahwa di Indonesia terutama di segmen market yang digeluti oleh BRI hadir fully digital rasanya juga belum fully implemented. Kenapa? Karena journey masyarakat kita masih memerlukan journey yang panjang untuk menjadi masyarakat digital. Oleh karena itu, gabungan dan kombinasi secara optimal antara physical presence dengan digital capabilities itulah yang kira-kira dibutuhkan dan optimal untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, tak segan-segan kita mengembangkan digital, tetapi digital itu harus dieducate kepada masyarakat dan kita mengirim pasukan yang kita sebut penyuluh digital ataupun digital advisor. Hasilnya sudah bisa kita lihat tambahan rekening baru, terutama savings account itu dari semula rata-rata per bulan 10,000-50,000 accounts sekarang sudah bisa 200,000 accounts per bulan. Hasil karya, hasil kerjaan oleh teman-teman yang kita kirim sebagai penyuluh digital atau digital advisor. Itu akan menjadi sumber pertumbuhan penghimpunan dana masyarakat terutama di kelas bawah dan itu adalah sumber CASA dari micro CASA yang selama ini orang tidak pernah bilang, tidak pernah bicara tentang micro CASA. Kemudian solid foundation for low cost fund di mana BRI memiliki customer base terbesar di Indonesia yang masih akan terus tumbuh dan memiliki potensi yang besar sebagai sumber pertumbuhan dana murah termasuk di antaranya dengan memanfaatkan potensi cross-selling dari ekosistem ultra-micro, penghimpunan dana di luar sistem perbankan serta inklusi keuangan yang terus ditingkatkan. Demikian juga robust capital management to ensure optimum return di mana BRI mengelola permodalan secara dinamis untuk menopang pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan memberikan return yang optimal untuk pemegang saham. Value beyond profit commitment to ESG di mana BRI selalu berada di garis depan industri perbankan di Indonesia dalam mengimplementasikan ESG dengan journey yang progresif untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Perlu diketahui bahwa kita yang menginisiasi pertama bersama OJK tentang prinsip-prinsip keuangan industri keuangan berkelanjutan, industri keuangan berkelanjutan dan kebetulan saya sendiri adalah ketuanya ya untuk sebagai first mover ini. Rekan-rekan analis demikianlah yang dapat saya sampaikan. Pemaparan terkait kualitas kredit dan manajemen risiko nanti akan disampaikan oleh Direktur Risk Management, Pak Agus Sudiarto dan kemudian akan dilanjutkan pemaparan kinerja keuangan secara detail nanti mungkin kalau ada crunching number nanti akan disampaikan oleh Bu Viviana ya dan disampaikan oleh... Baik akan disampaikan oleh Pak Agus Sudiarto tentang pengelolaan kredit dan risk management kemudian pemaparan kondisi keuangan secara detail itu akan disampaikan oleh Bu Viviana. Selanjutnya pemaparan mengenai kualitas kredit dan manajemen risiko silakan disampaikan oleh Pak Agus Sudiarto, Direktur Risk Management. Silakan. Baik, terima kasih Pak Dirut, rekan-rekan analis. Selanjutnya saya akan memberikan pemaparan mengenai lebih detail mengenai kualitas kredit dan juga manajemen risiko kredit. Dapat juga kami sampaikan bahwa komitmen kami untuk mendukung pemulihan bisnis tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dengan penerapan manajemen risiko yang optimal. Strategi risk management khususnya di bidang kredit telah disusun dan diimplementasikan sebagai tindakan preventif. Jadi tidak hanya sekadar responsif tapi juga preventif dan juga antisipatif untuk memitigasi risiko dari ketidakpastian yang mungkin masih akan terjadi. Kami juga mengaplikasikan soft lending strategy karena kami sadari bahwa kebijakan relaksasi dari OJK yang saat ini diterapkan tentu tidak akan selanjutnya selamanya berlaku sehingga kami secara internal menyiapkan soft lending strategy untuk mempersempit diskrepansi kualitas kredit selama periode transisi sampai dengan berakhirnya relaksasi dari OJK pada Maret 2023. Sehingga pada saat nanti di Maret 2023 tidak menimbulkan lonjakan cost of credit maupun loan downgrade yang signifikan. Dengan strategi tersebut tren kualitas kredit menunjukkan perbaikan pada level yang manageable. LAR menunjukkan tren penurunan sebagaimana tadi juga sudah disampaikan oleh Pak Dirut dari 28.3% pada Q4 2020 menjadi 24.1% pada full year 2021 dengan pencadangan yang memadai. Selanjutnya meskipun NPL dan kualitas collectibility 2 masih relatif terjaga, kami tetap melakukan pengelolaan dengan penuh kewaspadaan. Penurunan outstanding LAR diikuti dengan pembentukan pencadangan yang terus kami siapkan mendorong kenaikan LAR coverage dari 25.8% pada Q4 2020 menjadi 35.6% pada Q4 2021. Sementara pencadangan terhadap NPL juga naik dari posisi 2020 yang sebesar 248% menjadi 278.1%. Sementara itu realisasi hapus buku sebesar IDR 14.6 triliun atau naik pada level yang moderat 6.6% dibandingkan 2020 dan penghapusbukuan sebesar IDR 14.6 triliun ini masih di bawah budget yang disiapkan dan disetujui oleh dewan komisaris pada awal tahun 2021. Di tahun 2021 kami juga mencatat recovery rate yang cukup baik di mana total nominal hasil recovery dari kredit yang dihapus buku, yang telah dihapus buku adalah sebesar IDR 8.915 triliun sehingga recovery rate meningkat signifikan dari 52.4% menjadi 60.9% pada Q4 2021 didukung upaya yang agresif dalam mendorong pendapatan recovery antara lain mengupayakan pencarian investor-investor serta optimalisasi monitoring system. Dari sisi pengelolaan non-performing loan memang ada kenaikan di tahun 2021 menjadi 3.008% dibandingkan pada Q4 2020 yang sebesar 2.94%. Kenaikan ini utamanya disumbang oleh segmen mikro yang naik dari 0.83 menjadi 1.49 serta small dari 3.61 menjadi 4.05%. Tentu kedua segmen ini di mikro dan small memang segmen yang paling terdampak dengan adanya pandemi ini. Selain karena faktor-faktor di atas, portofolio yang turun juga berasal dari restrukturasi COVID dan bagian dari soft lending strategy di mana kami lebih selektif melakukan restrukturasi ulang dan mempercepat downgrade terhadap kualitas kredit debitur sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Jadi tidak semata-mata memanfaatkan relaksasi OJK tapi kita juga lihat secara riil kondisi masing-masing nasabahnya serta tentu dengan membentuk pencadangan yang memadai. Di sisi lain pada segmen medium, korporasi, dan SOE, tren NPL menunjukkan penurunan. Di segmen korporasi NPL turun dari 11.9 pada Q4 menjadi 10.72% yang disumbang di samping adanya memang write off terhadap beberapa debitur juga adanya upgrade debitur-debitur korporasi yang totalnya sebesar IDR 1.2 triliun, yaitu debitur-debitur yang bergerak di bidang agribisnis serta oil and gas. Sementara di segmen SOE, NPL ada penurunan dari 2.11% menjadi 1.27% dengan adanya write off terhadap 2 debitur, yaitu di segmen agribisnis. Dari sisi collectibility debitur yang di KOL2, ada kenaikan pada Q4 2020, KOL2 kita atau special mention loan sebesar 2.75%, sementara pada Q4 2021 special mention loan kita ada di posisi 3.7%. Kenaikan special mention loan ini juga ada di segmen mikro, small, corporate, dan SOE. Sementara segmen medium relatif flat dan segmen consumer malah mengalami penurunan. Kenaikan di segmen mikro dan small tadi sebagaimana kami sampaikan di depan adalah sejalan dengan soft lending strategy untuk mengakselerasi portofolio-portofolio kredit yang sangat fragile sehingga dia tidak kita restrukturasi ulang, tapi kita dorong untuk ke arah penyelesaian kredit. Sementara kenaikan di segmen SOE disumbang dari tiga debitur downgrade yang cukup besar termasuk di dalamnya adalah Garuda Indonesia, Waskita Beton, serta satu debitur yang tergolong KOL2, yaitu PT Gendhis Multi Manis. Dari sisi restrukturisasi kredit secara total mencapai 21.8% atau turun dari Q4 sebesar 26.2% yang level tertinggi di September 2020, yaitu sebesar 27.2%. Penurunan utamanya tentu disumbang oleh kredit-kredit restruktur COVID-19. Pada Q4 2021 outstanding kredit restruktur COVID-19 sebesar IDR 157 triliun atau 16.6% turun dari Q4 2020 yang sebesar IDR 191.4 triliun atau 21.3% dari total kredit. Bila dibandingkan dengan total akumulasi restruktur COVID-19 sebesar IDR 245.2 triliun, maka terdapat penurunan outstanding sebesar hampir IDR 90 triliun yang disumbang oleh adanya payment sebesar IDR 62.2 triliun baik dari pelunasan maupun pembayaran pokok serta unflagging atau pelepasan status restrukturisasi sebesar IDR 20.3 triliun khususnya disumbang di segmen small, corporate, dan mikro serta adanya write off terhadap debitur-debitur restruktur COVID kami sebesar IDR 5.9 triliun terutama di segmen mikro dan small. Kualitas restruktur dapat terjaga dengan baik di mana 87% masih berada pada stage 1. Total NPL pada portofolio restruktur mencapai 9.4% atau sebesar IDR 21 trillion. Dari portofolio tersebut maka rasio NPL untuk kategori non-COVID mencapai 26.8%. Demikian pemaparan kualitas kredit dan manajemen risiko dari BRI. Selanjutnya mengenai pemaparan terkait kinerja keuangan akan disampaikan oleh Ibu Viviana, Direktur Keuangan. Kami persilakan. Terima kasih, Pak Agus. Rekan-rekan analis selamat siang. Selanjutnya saya akan menyampaikan kinerja keuangan BRI secara konsolidasi maupun bank only. Mengawali paparan ini, ada satu hal yang ingin kami sampaikan kepada rekan-rekan terkait dengan penyajian laporan keuangan BRI di Desember 2021 ini. Penyajian laporan keuangan BRI 2021 ini disesuaikan dengan PSAK 38 mengenai kombinasi bisnis entitas sepengendali. Dalam PSAK ini diatur bahwa dalam menerapkan metode penyatuan kepemilikan, unsur-unsur laporan keuangan dari entitas yang bergabung, berarti dalam hal ini adalah BRI, PNM, dan Pegadaian karena dianggap sebagai entitas sepengendali harus disajikan sedemikian rupa seolah-olah penggabungan terjadi sejak awal periode, baik itu periode terjadinya kombinasi bisnis maupun periode komparatif sajian. Akibatnya apa? Akibatnya adalah dalam laporan keuangan 2020 konsolidasi gitu ya yang kita sebut sebagai periode komparatif sajian seolah-olah memang kita sudah melakukan konsolidasi terhadap PNM dan Pegadaian. Juga di laporan keuangan 2021, terutama, di dalam nanti laporan income statement juga terjadi penggabungan. Sehingga secara ringkas pada laporan balance sheet 2020 konsolidasi, kinerja Pegadaian dan PNM sudah kita konsolidasi. Kemudian kinerja BRI Syariah juga masih ada di buku BRI tahun 2020. Namun pada tahun 2021 tidak terjadi lagi konsolidasi pada BRI Syariah. Yang lebih penting teman-teman sepertinya pada laporan income statement, gitu. Jadi, laporan income statement tahun 2020 dan 2021 yang kita sajikan itu telah mengkonsolidasikan kinerja Pegadaian dan PNM secara penuh 12 bulan. Nanti pada bottom line, pada line yang bawah, akan dilakukan adjustment pengakuan net profit secara proporsional, yaitu 3.5 bulan untuk PNM dan Pegadaian. Nah, kurang lebih seperti itu. Baik, saya akan mulai dari kinerja konsolidasi. Seperti yang teman-teman saksikan pada slide ini, kita lihat memang bahwa pertumbuhan aset tercatat year-on-year konsolidasi 4.2% menjadi kurang lebih sekitar IDR 1,678 triliun. Kalau kita lihat memang loan-nya itu tercatat tumbuh 2.2%. Sehingga memang untuk driver pertumbuhan aset karena kemarin hasil dari rights issue memang di-drive dari non-loan earning assets. Kemudian kalau kita lihat pinjaman yang tumbuh 2.2%, memang masih didominasi sebenarnya oleh pertumbuhan BRI terutama dari segmen mikro, pertumbuhan bank only itu mencapai 7.2% dan kemudian juga masuknya Pegadaian dan PNM. Sementara memang ada satu perusahaan anak yang secara pertumbuhan pinjamannya negatif sekitar kurang lebih 40%, yaitu, salah satu perusahaan anak kita yang bergerak di bidang perbankan, yaitu Bank Raya karena masih dalam proses transformasi, mengganti fokus bisnis dari komersial menjadi loan dengan ticket size yang lebih kecil. Dengan adanya portofolio mix ini, maka komposisi UMKM secara bank only, secara konsolidasi, itu menjadi sekitar kurang lebih 46%. Selanjutnya kalau kita bicara dana pihak ketiga, dana pihak ketiga tumbuh 1.6% tentunya ini memang banyak di-drive dari parent. Nanti kita akan bicara di pertumbuhan DPK bank only. Untuk pertumbuhan net profit di sini terlihat pertumbuhan net profit secara konsolidasi tumbuh sekitar 64.8% menjadi IDR 30.8 triliun. Seperti yang tadi sudah disampaikan oleh Pak Dirut, pertumbuhan bank only-nya itu tumbuh 75% menjadi 32.2, kemudian memang karena ada salah satu perusahaan anak yang memang masih mencatatkan kerugian sehingga net profit secara konsolidasi ditutup di IDR 30.8 triliun. Untuk likuiditas sendiri masih terjaga dengan baik. Kalau kita lihat di sini, untuk konsolidasi di sini berarti kita menghitung, rekan-rekan, adanya loan dari Pegadaian dan PNM sehingga LDR-nya ada di sekitar 91%. Apabila kita keluarkan hanya LDR yang bank, dalam hal ini berarti BRI dan Raya, maka LDR-nya adalah di sekitar 83.53%. Untuk kualitas aset konsolidasi terjaga di kurang lebih 3%, kalau bank only sendiri sebenarnya, NPL-nya itu 3.08%, tetapi kemudian karena beberapa perusahaan anak seperti PNM dan Pegadaian itu, kualitas asetnya itu rata-rata di bawah 2% itu yang kemudian, membawa NPL konsolidasi menjadi 3%. Selanjutnya kalau kita lihat, NIM, di sini terlihat NIM meningkat menjadi 7.7%. Apabila kita buat proporsional pengakuan Pegadaian dan PNM itu 3.5% maka NIM konsol di 2021 itu, adalah sekitar 6.9%. Cost to income ratio di sini, konsolidasi adalah sekitar 48.56%, membaik dari 2020 yang kita saksikan kembali. Kalau kita buat secara proporsional 3.5 bulan maka cost to income ratio-nya itu ada di sekitar 44.09%, even better sebenarnya, teman-teman. Untuk credit cost sendiri secara konsolidasi itu ada di 3.08%, itu memang kalau dari bank only itu memang sebenarnya hanya sekitar 3.42%, hanya ada tambahan credit cost yang cukup signifikan dari salah satu perusahaan anak kita. Kalau itu kita buat Pegadaian dan PNM proporsional maka credit cost konsolidasi adalah 3.68%, persen. Membaiknya, profitability secara konsolidasi juga terlihat pada rasio-rasio profitabilitas seperti teman-teman bisa saksikan di sini, baik itu return on asset maupun return on equity, demikian juga capital adequacy ratio, terlihat sangat kuat di kisaran, 27%. Selanjutnya kita akan masuk, ke kinerja bank only. Kita mulai dari, neraca. Rekan-rekan, di sini kalau kita lihat memang, pertumbuhan loan book only year-over-year 7.2% masih di-drive sesuai dengan aspirasi BRI, di-drive oleh pertumbuhan sektor mikro yang tumbuh sekitar 13% year-over-year. Memang terutama by design kami masih mempreferensikan pertumbuhan KUR sehingga memang masih mendominasi pertumbuhan segmen mikro di 2021. Dengan adanya pertumbuhan mikro yang double-digit ini maka komposisi kredit mikro meningkat secara signifikan sehingga total SMI naik dari 80.87 menjadi 81.7%. Dengan adanya perbaikan portfolio mix ini, memang yield dari kita, dari BRI itu meningkat dari kisaran sekitar 11% tahun lalu, tahun 2020, menjadi sekitar 11.47% di Desember 2021. Selanjutnya untuk dana pihak ketiga, kita lihat di sini pertumbuhan mencapai 7.1% year-on-year atau IDR 1,127 triliun di akhir Desember 2021. Pertumbuhan di-drive oleh pertumbuhan dari dana murah yang tumbuh sekitar 11.2% year-on-year. Hal ini yang mendorong CASA ratio naik dari 61% di Desember 2020 menjadi sekitar 63.3% di Desember 2021. Kita masuk ke profitability. Rekan-rekan sekalian, dari sisi profitability, perbaikan yield karena perbaikan portofolio mix dan juga penurunan cost of fund yang cukup signifikan, dari 3.22% di Desember 2020 menjadi 2.05% di Desember 2021 telah men-drive pertumbuhan net interest income, BRI secara bank only sehingga net interest income kalau kita lihat di sini tumbuh sekitar 27.5% year-on-year. Selanjutnya, kalau kita bicara sumber pendapatan yang lain yang berasal dari fee dan other income, tumbuh sekitar 14% year-on-year di-drive oleh pendapatan recovery yang tumbuh sekitar 25%, kemudian aktivitas treasury itu tumbuh sekitar 26% dan juga fee-based income sendiri tumbuh sekitar kurang lebih 9% yang, disupport terutama oleh insurance-related fee. Selanjutnya untuk OPEX. Untuk OPEX mengalami pertumbuhan 18.1% year-on-year. Ini memang melebihi dari guidance yang kita berikan. Tadi sudah dijelaskan oleh Pak Dirut di kesempatan awal bahwa memang ada biaya-biaya yang harus kita bayarkan gitu ya karena kewajiban di masa lalu ataupun yang harus kita cadangkan untuk immediate expense yang harus kita keluarkan di 2022. Namun demikian, kalau kita bicara PPOP di sini, Pre Provision Operating Profit masih tumbuh cukup kuat di sekitar 28.4% yang meskipun memang tadi ada pertumbuhan OPEX yang cukup tinggi. Memang kalau kita lihat pertumbuhan PPOP ini masih sangat kuat. Namun kalau kita lihat dibandingkan dengan tahun kemarin memang atau quarter-by-quarter, pertumbuhan PPOP ini melandai. Kalau kita ingat memang pre-COVID growth PPOP BRI itu ada di kisaran sekitar 10%-13%. Untuk provision expense tumbuh 9.8% sejalan memang dengan strategi BRI untuk memastikan kecukupan pencadangan yang memadai terhadap portofolio kredit khususnya yang direstrukturisasi COVID-19. Dengan demikian, net profit bank only adalah IDR 32.2 trillion atau tumbuh 75%. Selanjutnya masuk kepada beberapa key ratio. Yang pertama adalah LDR, ya, memang karena memang pertumbuhan dana juga masih signifikan, loan demand juga belum terlalu pulih 100%, maka LDR ada di 83.7%. Loan yield tadi saya sampaikan mengalami peningkatan karena adanya portofolio mix dan juga perbaikan sebenarnya dari kualitas aset itu sendiri. Untuk cost of fund, cost of fund turun menjadi 2.05% dibandingkan Desember 2020. Kalau kita bicara cost of deposit sendiri sebenarnya di akhir Desember 2021, itu sudah mencapai 1.91%. Dengan adanya efisiensi cost of fund yang cukup agresif dan juga loan yield, maka NIM bank only itu 6.89%. Selanjutnya untuk credit cost kita jaga di 3.4%, namun kita akan tetap cautious ke depan dalam mengelola resiko kredit yang direstrukturisasi, mengingat memang relaksasi OJK kemungkinan akan selesai di Q1 2023. Kemudian untuk cost efficiency ratio, menurun dari 46% menjadi 44%. Selanjutnya BOPO juga membaik demikian juga dengan return on asset, return on equity, serta total CAR di kisaran sekitar 25.3%. Teman-teman, selanjutnya saya akan menyampaikan guidance untuk 2022 secara konsolidasi. Seiring dengan pemulihan recovery ekonomi di tahun 2022 dan juga dengan asumsi bahwa pemerintah berhasil memitigasi Omicron, maka kita masih memproyeksikan pertumbuhan pinjaman BRI di 2022 itu di sekitar 9%-11%. Untuk bank only kurang lebih mirip. Kemudian untuk NIM kita perkirakan akan berada di kisaran 7.6% sampai dengan 7.8% untuk BRI Group. Selanjutnya untuk OPEX akan kita perkirakan 6%-8% di 2022. Cost of credit itu ada di kisaran 2.8%-3% demikian juga NPL. Ya, mohon maaf teman-teman, terputus tadi koneksinya. Saya akan ulangi untuk guidance 2022 seiring dengan ekspektasi pemulihan ekonomi di tahun 2022 dan juga asumsi bahwa pemerintah berhasil melakukan mitigasi menangani Omicron. Kita percaya bahwa kita estimasikan kredit BRI Group masih dapat tumbuh 9% sampai 11%. Tentunya drivernya masih dari segmen mikro. Untuk net interest margin masih di kisaran 7.6% sampai dengan 7.8%. Untuk OPEX growth kita bawa kembali ke level 6% sampai 8%. Cost of credit dan MPL ada di kisaran 2.8% sampai 3%. Demikian kurang lebih yang dapat kami sampaikan terkait dengan aspek keuangan dan juga guidance 2022. Selanjutnya waktu saya kembalikan kepada Pak Dirut. Terima kasih. Baik, terima kasih Bu Vivi. Rekan-rekan analis, dengan melihat pencapaian BRI di tahun 2021, optimisme pemulihan ekonomi Indonesia serta berbagai strategi yang telah kami siapkan, kami menyambut tahun 2022 dengan optimis dan confident bahwa BRI akan memberikan kinerja yang lebih baik ke depan untuk mencapai aspirasi long term ROI di tahun 2025 sebesar 19%. Saya ulangi lagi, kami optimis dan confidence untuk memberikan kinerja yang lebih baik ke depan terutama untuk long term yang kami kasih kira-kira time horizon-nya adalah sampai 2025 kira-kira kita ingin menyasar return on equity sebesar 19%. Demikian pemaparan kinerja BRI untuk full year result tahun 2021. Selanjutnya saya kembalikan ke moderator. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baik, terima kasih Bapak Sunarso, Pak Agus Sudiarto dan Ibu Viviana untuk pemaparan kinerja BRI full year 2021. Kemudian kita akan lanjutkan dengan sesi tanya jawab. Mungkin yang pertama ada Bapak Suria Dharma dari Samuel Sekuritas. Silakan Pak Suria. Terima kasih. Luar biasa hasilnya dari BRI ini ya di luar perkiraan saya juga sih. Cuma memang ada satu catatan Pak yang mengenai konsolidasi yang lebih rendah dari apa namanya bank only ya laba bersihnya itu kan terutama dikarenakan adanya kerugian di agro Pak ya. Yang saya lihat, saya belum lihat data yang sampai Desember tapi kalau November saya lihat kerugiannya kan sekitar IDR 2 triliun Pak ya. Nah pertanyaan saya apakah di tahun ini provisi yang besar itu tidak terjadi lagi untuk kredit-kredit yang lama mungkin ya yang kualitas kreditnya nggak begitu bagus ya. Apakah akan apa tidak ada lagi provisi besar-besaran intinya dari tahun ini gitu Pak ya? Terus pertanyaan kedua mengenai Kupedes Pak. Tadi Pak Sunarso bilang Kupedes itu kan yang loan demand-nya kan sekitar IDR 17.7 triliun ya. Kalau dilihat dari total itu ada penurunan Pak ya. Kalau saya ngasal lihat itu sekitar IDR 30 triliun Pak. Itu apakah berarti terjadi apa namanya pelunasan sebesar sekitar IDR 30 triliun gitu Pak setiap apa di tahun lalu gitu atau seperti apa tuh Pak? Kemudian yang ketiga pertanyaan mengenai apa guidance dari NIM ya yang khususnya NIM itu sekitar 7.6%-7.8% di saat tahun ini itu kan mungkin ada terjadinya kenaikan suku bunga Pak ya yang berarti kan cost of fund dari BRI itu untuk turun lagi mungkin agak sulit Pak ya. Nah apa strategi dari BRI sehingga memperkirakan memproyeksikan bahwa NIM itu akan naik sebesar 7.6%-7.8% Pak? Terima kasih Pak. Baik, terima kasih Pak Surya. Nanti saya akan dibantu oleh Bu Vivi dan rekan-rekan direksi yang lain. Tapi yang saya tangkap pertanyaan ada tiga. Jadi sekarang ini kan kalau bank only itu laba kita kan sudah IDR 32.2 trillion. Tapi begitu dikonsolidasi padahal ada tambahan ya dari bergabungnya Pegadaian dan PNM yang dihitung selama 3 bulan dari di kuarter empat itu yang dihitung. Tapi tambahan dari 3 bulan Pegadaian dan PNM itu memang belum mengimbangi penurunan ataupun rugi yang dibukukan oleh BRI Agro. Dan kemudian kenapa BRI Agro rugi gitu ya? Ya karena memang kualitas asetnya terutama kredit-kredit kepada korporasinya itu buruk dan kita akan bersihkan semua di tahun ini. Sehingga kalau pertanyaannya apakah di tahun ini gitu, kita bersihkan di tahun lalu ya 2021. Apakah di tahun ini nanti tidak dibutuhkan lagi kredit provision itu? Saya jawab tidak, karena semua sudah kita bersihkan, kita bereskan di 2021. Jadi BRI Agro itu secara garis besar mungkin strateginya saya belah menjadi dua. Jadi ada bad bank itu sisa portofolio yang lama dan ada good bank yang sisa yang lama juga tapi masih kategori good bank. Kemudian yang good bank itu kita jadikan basis untuk kita tumbuh kembangkan secara sehat antara lain termasuk kita diversifikasi bahwa bisnis modelnya kita arahkan menjadi digital banking. Kemudian urusan yang bad bank itu kita urus biayanya termasuk loan provision-nya dan kemudian kita akan selesaikan melalui proses recovery, melalui proses penagihan. Jadi bukan kita restrukturisasi, tetapi lebih banyak yang kita sudah write off dan kemudian nanti kita tinggal proses recovery, kita tagih. Kita selesaikan dengan cara apapun. Maka kemudian kalau nanti hasil recovery itu masuk ya otomatis akan masuk sebagai pendapatan gitu. Karena sudah kita biayakan semua untuk biaya apa namanya saya susah ya untuk memperhalus ini ya jadi saya bilang biaya pemakaman deh. Itu memang sebenarnya adalah zombie maka ya kita makamkan saja gitu. Bahwa nanti kemudian kita bisa tagih lagi ya menjadi pendapatan. Menjawab kekhawatiran bahwa apakah masih akan ada loan provision lagi? Saya jawab tidak ada karena sudah kita bersihkan di tahun 2021. Nanti akan tumbuh dan berkembang berdasarkan bisnis model baru yang digital tadi dan kemudian digital itu pun bukan fully digital karena dia akan kita perankan sebagai platform provider tapi nasabahnya kita berikan kesempatan untuk mencari referral dari agen BRILink yang kita sudah punya 500 lebih, 500 ribu lebih agen BRILink. Kira-kira seperti itu untuk jawaban yang pertama. Penurunan Kupedes. Mungkin ini yang harus saya sampaikan kepada rekan-rekan analis. Main di segmen mikro apalagi ultra mikro itu sebenarnya adalah main di area yang kita sebut point of no return. Artinya apa? Sekali kita masuk ke situ jangan nengok ke belakang. Bahwa sekali masuk ke situ risikonya adalah banyak yang berjatuhan jadi NPL. Kemudian kita harus maju terus ke depan kemudian kalau ada yang jatuh NPL ya kemudian kita harus selesaikan dan kemudian kita fokus kepada recoverynya. Kita fokus kepada recoverynya untuk memperkecil cost of credit. Itu ciri-cirinya adalah kalau kita 1 tahun bisa booking IDR 10 triliun sesungguhnya mungkin yang macet juga banyak. Kemudian yang lunas juga banyak karena tenornya juga pendek-pendek. Apabila kita tidak terus maju ke depan terseret lagi kembali katakanlah ada yang NPL terus kita berhenti ada yang NPL kita berhenti maka jujur saya sampaikan portofolio kita di situ akan berhenti. Nah sekarang yang itulah yang terjadi di Kupedes. Yang terjadi di Kupedes tapi bukan karena kesengajaan kita. Jadi Kupedes itu sebenarnya rundownnya itu turun karena pelunasan itu banyak. Dan kemudian yang NPL ya ada. Tapi kemudian tidak dibarengi dengan meningkatnya loan demand di Kupedes karena pandemi. Dan kemudian pilihan orang ketika pandemi orang yang tadinya sebenarnya enggak terlalu butuh kredit segala macam ditawari oleh pemerintah melalui kredit-kredit yang di dalamnya ada stimulus dengan bunga yang murah. Maka orang pilihannya adalah enggak ngambil Kupedes tapi ngambil KUR kalau memenuhi syarat untuk KUR. Artinya apa? Bahwa begitu perekonomian pulih aktivitas masyarakat akan pulih itu Kupedes itu akan naik lagi dan itu bisa dilihat dari jumlah dan kecenderungan loan disbursement di Kupedes itu ternyata di 2021 itu trennya naik terus itu begitu. Tetapi memang mungkin kenaikannya itu belum bisa mengimbangi penurunan yang termasuk karena jatuh tempo dan mereka lunas. Saya kira itu jawabannya dan kemudian yang ketiga silakan Bu Viviana ataupun yang lain nanti Bu Handayani bisa membantu bahwa sekarang kan peningkatan laba memang banyak dibantu di support oleh efisiensi dari cost of fund. Sekarang kalau bagaimana kalau cost of fund kecenderungannya naik karena rasanya menurunkan cost of fund lagi itu ruangnya sudah makin terbatas seperti itu. Saya mengatakan tapi tidak tertutup loh ini jawaban saya tidak tertutup loh bagi BRI untuk menurunkan cost of fund. Kenapa demikian? Memang trennya BI menyedot likuiditas melalui peningkatan giro wajib minimum otomatis suku bunga akan naik, suku bunganya mungkin akan naik. Kalau kita memperkuat customer base kita di micro CASA tadi yang notabene itu biayanya rendah dan itu kita perkuat customer base kita dengan tambahan nasabah baru 200,000 per bulan rasanya sih dengan penyuluh digital kita yang sesungguhnya adalah itu adalah sales person, sales people itu menurut saya tidak bisa mengatakan bahwa tertutup kemungkinan untuk memurahkan lagi cost of fund. Artinya masih terbuka meskipun ruangnya itu sempit sekali. Nah sekarang seandainya katakanlah tertutup strateginya apa kita untuk mencapai NIM yang tadi? Pasti kita akan fokus kepada yieldnya. Yieldnya itulah yang kemudian dengan bertumbuhnya ekonomi, berkembangnya ekonomi kita ingin berharap tidak hanya berbasis KUR tetapi juga kredit-kredit yang commercial base itu bisa kita dorong. Mungkin ada yang lain ya pasti cost efisiensi di sisi overhead cost itu kita lakukan dengan digitalisasi tapi digitalisasi ini akan kemana-mana hasilnya. Maksudnya kemana-mana positif. Satu menurunkan overhead cost. Yang kedua mempercepat proses akuisisi nasabah-nasabah dana, nasabah-nasabah savings account di grassroots, di ultra mikro dan di mikro. Ini akan mensupport efisiensi tidak hanya di overhead cost tapi juga di funding cost. Saya kira itu dan kemudian yield saya kira harus tetap kita bisa. Bahkan kalau trennya suku bunganya naik ya kita harus ngomong bahwa apa yang disubsidi pun apa namanya mesti ditinjau kembali karena bauran dana yang kita pakai itu bukan lagi cost of fund yang lama tetapi cost of fund yang baru. Sementara itu teman-teman kalau ada yang mau menambahkan silakan. Bu Viviana? Silakan. Mungkin sedikit menambahkan, teman-teman memang tadi guidance-nya 7.6%-7.8% untuk NIM gitu ya. Untuk Pegadaian dan PNM saat ini mereka sudah cukup banyak me-lock funding dalam jangka panjang sehingga memang ini juga cukup banyak impact-nya kepada BRI on consolidated basis di 2022. Untuk bank only-nya tadi seperti yang disampaikan Pak Dirut bahwa guidance ini sudah mempertimbangkan adanya impact KUR kemudian GWM dan juga kemungkinan adanya kenaikan interest rate dimana tadi betul yang pertama adalah kita akan upayakan CASA kita akan stretch naik ke CASA composition di sekitar 64% tadi inisiatifnya sudah disampaikan oleh Pak Dirut. Kemudian yang kedua yang paling penting ini mengenai adalah portofolio mix untuk meng-enhance yield dimana nanti kita akan secara bertahap dengan melihat pertumbuhan atau perkembangan kredit-kredit yang ada di portofolio kami. Ada beberapa segmen yang kemungkinan besar segmennya itu rate-nya sudah bisa dikembalikan ke rate normal secara bertahap. Kemudian juga tadi pertumbuhan pinjaman yang lebih tinggi dan juga kita akan coba lagi melihat potensi pertumbuhan di segmen consumer yang memiliki yield yang lebih tinggi dibandingkan dengan segmen SMI. Kurang lebih begitu, terima kasih. Baik, terima kasih Pak Sunarso dan Bu Vivi sebenarnya sudah menjawab ya pertanyaan dari Pak Suria. Mungkin untuk pertanyaan selanjutnya dari Pak Raymond dari Verdhana. Silakan Pak Raymond. Ya, terima kasih. Selamat jajaran manajemen BRI atas kinerjanya yang excellent ya. Saya ada beberapa pertanyaan yang pertama mengenai loan growth Bu. Kalau bisa boleh tolong di breakdown Bu untuk pertumbuhan loan growth di Pegadaian atau PNM berapa lalu di BRI sendiri mungkin ada breakdown korporasi mikro berapa dan untuk Bank Raya berapa Bu? Karena ini nanti saya coba mau berhitung mengenai NIM. Tadi sempat disampaikan bahwa Pegadaian udah lock funding jangka panjang ya. Kira-kira kalau bisa dikasih gambaran NIM-nya di Pegadaian itu berapa saat ini Bu supaya kita mungkin nanti bisa berhitung lain kali kalau sudah lock funding yang jangka panjang itu mature kan bisa refinance by excess liquidity yang ada di BRI. Itu yang pertama. Yang kedua ini mengenai hybrid bank Bu ya Pak. Memang saya mengakui sebagai hybrid bank mungkin BRI ada yang terbesar dari sisi brick and mortar bank kita semua sudah tahu, dari sisi digitalisasi juga dengan ekosistem 130 juta nasabah ya. Saya nggak tahu ya terakhir saya pernah berhitung ini beberapa tahun yang lalu perputaran uang di dalam BRI ini saya hitungnya CASA velocity ya Pak ya itu tercepat nomor dua Pak ya di perbankan Indonesia. Saya nggak tahu hitungannya hari ini berapa karena datanya nggak ada di presentasi yang hari ini. Kira-kira bagaimana BRI bisa meningkatkan itu katakan hitungan saya Pak high single digit ya, but one of your peers itu di kisaran 30-40 kali Pak perputaran CASA velocity-nya ya. Saya yakin pasti banyak ruang untuk tumbuh. Ini juga terkait berhubungan dengan Bank Raya juga Pak. Semakin induk BRI sukses meningkatkan digitalisasi atau CASA velocity itu Pak ya semakin tinggi entry barrier-nya dan kita tahu Pak transformasi di digital banking ini sangat cepat dan window of opportunity itu semakin sempit ya Pak ya tertutup cepat. Jadi saya mau tanya Pak apa yang Bank Raya nantinya bisa lakukan tetapi induk BRI tidak bisa Pak? Gitu ya. Kalau itu nanti ada jawabannya saya mau tanya tahu berapa cepat full transformasi di Bank Raya itu bisa terjadi apakah tahun ini selesai dan Bank Raya akan menjadi full digital bank. Itu saja dari saya, terima kasih. Baik, terima kasih Pak Raymond. Untuk pertanyaan nomor satu, breakdown tentang target pertumbuhan atau aspirasi pertumbuhan di perusahaan anak terutama di Pegadaian, mungkin juga PNM gitu, dan untuk di BRI sendiri minta breakdown per segmen gitu. Korporasi tumbuh berapa, SMI tumbuh berapa, consumer tumbuh berapa, mikro dan ultra mikro tumbuh berapa. Breakdown ini nanti Bu Vivi bisa jelaskan ya. Yang kedua ini tentang untuk meningkatkan CASA velocity ya. Saya kira caranya dengan apa saya sudah jawab saja dengan digitalisasi dan ekosistem. Saya ngomong jawabannya adalah dengan mempertajam dan memperkuat digitalisasi dan ekosistem. Sebagai contoh aspirasi kita dan aspirasi ini bukan aspirasi yang biasa saya pikir aspirasi yang sangat berisiko kalau gagal tapi kita tidak boleh gagal. Itu kita bikin aspirasi. Kalau dulu ada business as usual kemudian breakthrough business dan di BRIvolution 2.0 ini kita bikin level yang sulit tetapi kalau nanti berhasil hasilnya akan luar biasa dan tidak boleh tidak berhasil harus berhasil yang kita sebut moonshot. Moonshot kita itu salah satunya ada empat moonshot tapi yang kemudian yang untuk menjawab kecepatan perputaran CASA ataupun CASA velocity ini saya langsung mengacu kepada salah satu moonshot kita yang kita sebut BRImo as a super app. Jadi BRImo sebagai super app itu yang ada di BRI dan itulah yang akan apa namanya mempercepat perputaran CASA. BRImo sebagai super app artinya bahwa nanti kita persepsikan bahwa tidak ada kebutuhan kita yang tidak bisa dipenuhi terutama kebutuhan transaksi, kebutuhan bayar membayar, kebutuhan mengelola cash itu tidak ada yang tidak bisa dilayani oleh BRImo. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi kita akan memenuhi kebutuhan kita dengan menggunakan BRImo. Itu yang akan kita capai yang pertama inisiatifnya dan ini sudah kita kerjakan ya sudah kerjakan. Kemudian yang kedua digital bank. Saya mungkin tidak punya cita-cita untuk mem-fully digital bankingkan Bank Raya saat ini. Jadi menurut saya Bank Raya itu memang harus menjadi platform provider tetapi nanti kita juga belajar dari kesulitan digital banking yang ada saat ini. Begitu digital bank di launching kemudian dinaikkan ke pasar dan kemudian ternyata mau landing saja tidak bisa mau nyari funding juga tidak bisa dan kemudian tetap seperti ciri-ciri startup company. Sedangkan banking adalah banking. Bank adalah bank yang tetap harus mengelola aset dan liabilities management. Artinya harus ada asetnya apakah itu dalam bentuk kredit atau ke aset yang lain yang prosesnya memang diproses secara digital begitu. Liabilities dia juga harus tetap punya liabilities yang mungkin prosesnya memang fully digital. Oleh karena itu saya katakan matchingnya, fittingnya dengan situasi masyarakat di kita tingkat digital savvy dari masyarakat di kita rasanya saya belum perlu untuk mem-fully digitalkan Bank Raya. Sehingga Bank Raya saya fokuskan untuk menjadi platform provider tetapi nyari nasabahnya tetap disupport oleh jaringan BRI terutama jaringan yang tidak menjadi bagian dari BRI tetapi apa namanya berdiri sendiri yaitu agen BRILink. Bisa dikatakan bahwa agen BRILink lah nanti yang akan mensupport nasabah kepada apa namanya Bank Raya. Kalau begitu kenapa tidak dikerjakan oleh BRI sendiri? Menurut saya terlalu mahal kalau kita mengotak-atik sistem operasional yang ada di BRI. Maka fokus sebagai digital attacker ini kita fokuskan saja untuk dikerjakan oleh apa namanya Bank Raya. Pak Indra Utoyo barangkali bisa menambahkan silakan. Saya prinsipnya seperti itu ya untuk memberikan arahan. Baik terima kasih Pak Dirut. Menambahkan yang disampaikan Pak Dirut. Memang tadi pertanyaan Pak Raymond kan terkait dengan apa distinct capabilities yang ada di Bank Raya sehingga berbeda dari induknya. Tadi sudah disampaikan oleh Pak Dirut. Bank Raya akan main di small-small ticket dan juga yang mainnya di shorter-shorter period. Kemampuan-kemampuan yang mainnya jam-jaman, harian mungkin sampai mingguan itu nanti capabilities dari Bank Raya. Karena kalau dilakukan di Bank BRI terlalu mahal begitu. Kemampuan-kemampuan yang seperti itu yang akan kita kembangkan sehingga membuat Bank Raya punya distinct position dan unfair advantage dibanding yang lain. Mungkin begitu Pak melengkapi. Makasih. Baik, saya pertegas. Bank Raya memang kita convert menjadi digital bank yang saya katakan tidak fully digital bank tetapi tetap hybrid dengan yang disupport oleh induknya yang masih konvensional bank yang masih menghadirkan apa namanya jaringan-jaringan fisik. Mungkin lebih tepatnya sebenarnya digital bank lah, physical and digital bank. Saya jadi ingat karena memang kita mau mencari sumber pertumbuhan baru secara grup itu bukan ke atas tetapi ke bawah yang kita bilang go smaller. Kalau Pak Indra tadi menyampaikan yang disasar nanti menjadi pembeda yang menjadi distinctif antara BRI sebagai induk dan anaknya adalah bahwa BRI nggak akan mengerjakan yang shorter-shorter itu yang pendek-pendek itu tenor-tenor yang pendek bahkan jam-jaman seperti pay later dan lain-lain. Itulah yang akan dikerjakan oleh Bank Raya begitu. Sedangkan nasabahnya di mana? Nasabahnya nasabah BRI yang mungkin sekarang sudah menggunakan jaringan-jaringan fisik yang ada di agen-agen BRILink. Saya kira itu Pak Raymond, itu tapi jawaban pertanyaan nomor 2 gitu. Yang nomor 1 ya kembali lagi karena angka-angka target pertumbuhan itu biasanya Direktur Keuangan yang buat target itu. Silakan Bu Vivi. Baik. Terima kasih Pak Dirut. Pak Raymond, untuk breakdown-nya memang untuk bank only kita masih akan tumbuh di kisaran 9%-11%. Itu breakdown-nya adalah sekitar di mikro itu 13%-15%, kemudian di consumer itu sekitar 8%, kemudian di small medium juga sama dan corporate dan SOE itu di sekitar 2%-3%. Untuk Bank Raya tahun 2022 secara pertumbuhan kredit itu masih mencatatkan pertumbuhan yang menurun Pak atau minus gitu ya, karena memang akan diganti isinya gitu Pak dengan small size tickets untuk loan-nya. Kemudian untuk Pegadaian estimasinya akan tumbuh di kisaran sekitar 10%-11%, PNM sekitar 17%-20%. Sehingga secara konsolidasi itu ada di sekitar 9%-11%. Gitu, Pak. Terima kasih. [/Foreign language] Saya ingin tambahkan karena saya lagi on ini menjawab namanya velocity of money tadi. Lebih spesifik lagi adalah CASA velocity. Itu saya on banget itu untuk itu. Maka saya mungkin boleh katakan bahwa Bank Desa ini Pak Raymond ternyata mampu memutar uang di level grassroots ekonomi melalui agen BRILink. Tahun 2021 agen BRILink kita menangani transaksi volumenya IDR 1,143 triliun. Saya ulangi lagi volume transaksi IDR 1,143 triliun selama tahun 2021. Saya yakin itu CASA semua karena nggak ada orang bertransaksi di agen BRILink itu menggunakan giro ataupun deposito. Itu pasti menggunakan tabungan dan tabungannya tabungan desa banget, Simpedes, simpanan pedesaan gitu. Itu yang digunakan orang untuk bertransaksi di agen BRILink dan ternyata volume transaksinya setahun IDR 1,143 triliun. Kalau itu makin kita digitalkan lagi itulah yang akan meningkatkan velocity of money terutama velocity CASA tadi itu. Demikian Pak Raymond, terima kasih. Ya, baik. Terima kasih Bapak, Sunarso dan Bu Vivi. Mungkin kita lanjutkan untuk penanya berikutnya Pak. Mohon izin Pak satu lagi mungkin walaupun masih ada tiga penanya ya, tapi mohon maaf karena waktu terbatas mungkin kita tambah satu lagi penanya, Pak Joshua Pak. Silakan, Pak. Ya, terima kasih, Bu Viviana, terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Saya ada tiga pertanyaan. Ini terkait dengan guidance atau konfirmasi saja. BRI Group credit cost itu 2.8-3. Saya ingin konfirmasi saja karena di 2021 itu konsolidasi credit cost 3.8. Apakah benar memang memprediksikan 100 basis point improvement. Pertanyaan saya kedua mengenai guidance mengenai OpEx. Tadi Pak Sunarso dikatakan bahwa pertumbuhan OpEx yang 18% di 2021 itu ada IDR 8 trillion one-off. Kalau saya keluarkan one-off dan saya taruh misalkan 6% OpEx growth, itu sepertinya OpEx growth itu sudah tumbuh di atas loan growth yang 9%-11%. Jadi pertanyaan saya mungkin apakah akan ada one-off yang sudah termasuk di guidance 6%-8% ini? Karena kalau kita keluarkan yang one-off di 2021 sepertinya OpEx guidance seperti ini, mengguide pertumbuhan jauh di atas loan growth. Yang ketiga mungkin mengulangi pertanyaan Pak Raymond untuk BRI loan growth 9%-11% untuk bank only, ini corporate loan growth-nya berapa ya? Saya perhatikan di 2021 meskipun NPL 10% corporate loan growth itu cukup tinggi ya di luar mikro. Jadi saya ingin tahu guidance untuk 2022 itu corporate non-SOE loan growth-nya guidance-nya berapa % Pak? Terima kasih. Mungkin tiga-tiganya bisa dijawab Bu Viviana nanti, SEVP Corporate bisa membantu, tapi Bu Viviana juga kok yang menetapkan target pertumbuhannya gitu ya. Jadi Bu Viviana. Silakan. Makasih Pak Dirut. Pak Joshua, credit cost di 2022 itu memang cukup tinggi secara konsolidasi 3.8% gitu ya karena memang ada Raya. Di 2021 3.8% itu kan memang karena ada impact dari Raya. Sementara kalau kita bicara guidance sendiri kalau kita breakdown gitu ya Pak ya, bank only-nya itu sekitar 2.8%-3%. Sisanya perusahaan anak relatively cukup kecil Pak gitu ya di bawah angka bank only gitu. Jadi kalau kita bicara mengenai Raya tahun depan itu kemungkinan besar sudah tidak ada lagi pembukuan provisions yang besar seperti yang dilakukan di tahun 2021. Kemudian Pegadaian itu more or less kurang lebih ada di sekitar 0.5% gitu Pak. PNM mungkin yang ini nanti kita masih ada loan review, Pak, yang kita lakukan di 3 bulan pertama ini. Sementara ini untuk credit cost PNM masih di kisaran 2%. Sehingga in total, Pak, konsolidasinya 2.8-3%. Itu yang pertama. Yang kedua terkait guidance OpEx. Nah, di dalam guidance OpEx sekitar 6%-8% itu konsolidasi ya, Pak. Memang betul, Pak Joshua, masih ada beberapa hal. Satu misalnya dotasi kepada dana pensiun itu adalah dotasi rencananya adalah dotasi terakhir, Pak, untuk mencukupi rasio kecukupan dana dana pensiun BRI itu juga ada. Secara reguler juga nanti akan ada expense untuk pekerja terutama terkait rencana ESOP dan ESA karena kebetulan kami juga akan melakukan buyback di tahun ini. Kurang lebih itu, Pak, yang kita masukkan di dalam guidance tahun 2022. Untuk loan growth tahun 2022 9%-11% untuk corporate tadi kita sampaikan bahwa sekitar akan tumbuh di sekitar 2%-3% saja Pak Joshua. Terima kasih. [/Foreign language] Baik mungkin saya tambahkan sedikit ya. Rasanya sih yang one off itu kan mungkin kenaikan upah ya sudah kita cadangkan kan, iya kan IDR 1 triliun. Kemudian dotasi itu nanti subject to persetujuan dari dewan komisaris dan OJK karena ini nyangkut masalah requirement untuk memenuhi rasio kecukupan dana di dana pensiun gitu. Dan kemudian sebenarnya yang paling penting adalah yang paling fundamental itu adalah produktivitas yang terkait dengan OpEx ini gitu. Jadi produktivitas kita memang kalau terus dihajar pakai WFH ya cost-nya tetap jalan kemudian produktivitasnya termasuk loan growth tadi itu di bawah OpEx growth gitu. Tapi kita punya optimisme bahwa sekarang kan kita hampir dibilang mau Omicron segala macam ini kan sudah enggak se apa namanya enggak WFH dalam artian yang kita enggak bisa bedakan gitu antara work from home sama holiday from home itu kan enggak bisa bedakan kita. Ini sekarang pasti akan lebih meningkat produktivitasnya. Artinya apa? Loan growth-nya itu paling tidak bisa mengimbangi apa namanya kenaikan OpEx yang pasti tadi itu. Jadi itu kira-kira mungkin yang ya ini memang analisa ini kualitatif ya, tetapi saya rasakan bahwa OpEx itu yang yang tinggi itu antara lain juga disebabkan karena kita banyak yang berurusan dengan hal-hal yang yang sebelum pandemi enggak terjadi, tapi kemudian kita harus keluarkan biaya itu gitu termasuk untuk biaya prokes segala macam itu kita harus keluarkan cukup besar loh bahwa sampai hari ini sudah 2 tahun lebih kita menyewa mobil antar jemput dan lain-lain, iya toh? Gitu. Kemudian orang work from home itu terus terang saja tidak seproduktif kalau apa namanya WFO gitu. Kemudian sekarang dengan menurunnya persentase work from home saya kira maka produktivitas kita akan mengimbangi OpEx yang pasti tadi kita keluarkan. Demikian mungkin saya kembalikan ke moderator. Terima kasih. Baik, terima kasih Pak Sunarso dan Bu Vivi. Ya, mengingat waktu sudah pukul 11:30 A.M. Bapak, terima kasih sekali lagi. Saya kita jadwalkan 1 jam ternyata sampai satu setengah jam. Saya rasa penjelasan tadi sudah cukup komprehensif, maka izin saya tutup sesi tanya jawab ini juga. Mohon maaf, tadi ada beberapa dari analis yang mengajukan pertanyaan, ada Pak Feri, Bu Yuli, dan juga Bu Selvi. Mungkin nanti kita bisa langsung menghubungi IR tim. Sekali lagi terima kasih atas kehadiran dan partisipasinya. Saya tutup kegiatan analis meeting dan pemaparan kinerja keuangan Bank BRI tahun 2021. Salam sehat untuk kita semua. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.